Nilai Rupiah Naik seiring Ekspektasi Pelemahan Ekonomi AS
- 06 Jun 2024 16:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (6/6/2024). Menurut Bloomberg, rupiah menguat 0,15 persen atau 24 poin pada posisi Rp16.263 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan data ketenagakerjaan versi Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan penurunan pasar tenaga kerja AS. "Ini membuka kemungkinan bahwa data non-farm payrolls (upah pekerja non-pertanian) yang dirilis Jumat (7/6/2024) juga melemah," ujarnya.
Baca juga: Dolar Tertekan, Rupiah Berpeluang Kembali Menguat
Sebelumnya, tingkat lowongan kerja di AS juga mengalami penurunan. Begitu pula indikator ekonomi lainnya mengalami perlambatan yang membuat prospek inflasi juga melemah.
"Kondisi tersebut akan memberikan kepercayaan diri lebih besar bagi The Fed untuk mulai menurunkan suku bunganya," ucap Ibrahim. Jajak pendapat Reuters menunjukkan hampir dua pertiga ekonom memperkirakan bank sentral AS itu menurunkan suku bunga pada September 2024.
Namun, aktivitas sektor jasa AS kembali tumbuh pada Mei 2024 setelah mengalami kontraksi sebulan sebelumnya. Sektor jasa menyumbang sebagian besar output perekonomian AS, yang jika menguat akan melemahkan kemungkinan pemangkasan suku bunga.
"Investor sekarang menantikan pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB)," ujarnya. Diperkirakan ECB akan menurunkan suku bunga depositonya dari rekor tertinggi sebesar 4 persen ke level moderat.
Di sisi lain, sentimen terhadap Tiongkok memburuk pada beberapa sesi terakhir. Para pedagang menunggu lebih banyak isyarat mengenai rencana negara tersebut untuk menopang pertumbuhan ekonominya.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati rencana penggabungan Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai menjadi Badan Otorita Penerimaan Negara. Ini merupakan program kampanye Prabowo-Gibran saat debat Pilpres 2024.
Tujuan dari penggabungan tersebut mengarah pada upaya pengurangan defisit anggaran. Sehingga pada pemerintahannya nanti, utang negara tidak semakin menggunung.
"Potensi penerimaan negara masih sangat besar hingga Rp500an triliun, tetapi tidak dengan menambah beban kenaikan tarif-tarif pajak," ujarnya. Menurut Ibrahim, penerimaan utama dari pajak dapat dijaring dengan memperkecil ruang gerak kegiatan ekonomi yang ilegal (shadow economy).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....