Pasar Tunggu Data Cadangan Devisa, IHSG Masih Berpeluang Menguat Hari Ini
- 07 Okt 2026 07:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari ini secara teknikal potensi penguatan IHSG lebih lanjut masih terbuka
- IHSG akan menguji level 6.230-6.280 pada perdagangan hari ini
- Laporan Bank Dunia dan rilis cadangan devisa menjadi perhatian pasar
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan masih akan menguat dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Raabu 7 Oktober 2026. Laporan Bank Dunia dan rilis cadangan devisa menjadi perhatian pasar hari ini.
Pada perdagangan Selasa kemarin, IHSG ditutup naik 1,21 persen ke level 6.192,93. Semua sektor menguat dengan penguatan terbesar pada sektor transportasi dan teknologi.
Namun aksi jual saham oleh investor asing masih terjadi dengan net sell sebesar Rp497,49 miliar. Saham-saham yang paling banyak dijual asing adalah GOTO, BMRI, TLKM, PACK dan AADI.
"Hari ini secara teknikal potensi penguatan IHSG lebih lanjut masih terbuka," ucap Tim Analis Phintraco Sekuritas, Rabu, 7 Oktober 2026. Menurutnya, IHSG akan menguji level 6.230-6.280 pada perdagangan hari ini.
Pelaku pasar menantikan data cadangan devisa Indonesia bulan September 2026 yang akan dirilis Bank Indonesia hari ini.Posisi cadangan devisa Indonesia, pada Agustus 2026 meningkat menjadi USD146,5 miliar dari USD145,3 miliar di bulan Juli.
Sementara itu, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di level 5,2 persen pada tahun 2026 dan 2027 mendatang. "Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik mencapai 4,5 persen pada tahun 2026," ucap Tim Phintraco.
Menurut Bank Dunia, aktivitas ekonomi didukung oleh peningkatan pelaksanaan program-program prioritas pemerintah. Disamping dukungan investasi yang terkait dengan negara, serta subsidi energi.
"Bank Dunia menilai bauran kebijakan telah mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka pendek. Tetapi di saat yang sama, berkontribusi pada ketidakseimbangan fiskal dan eksternal yang lebih besar," ujar Tim Phintraco mengutip laporan Bank Dunia.
Tim Phintraco juga mencatat harga minyak yang stabil dan jeda tekanan jual pada pasar obligasi AS. Hal tersebut menjadi katalis positif bagi dinamika bursa global, terutama bursa saham di Wall Street, Amerika Serikat.
Harga minyak Brent cenderung stabil di level USD100 per barel. Imbal hasil obligasi AS turun 2 bps ke level 5,28 persen.
Harga emas spot ditutup menguat 0,7 persen di level USD4.168 per troy ons. Kenaikan harga emas didukung oleh jeda kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan dolar.
"Para investor global menantikan risalah rapat the Fed bulan September kemarin. Risalan itu menjadi petunjuk baru mengenai prospek kebijakan moneter the Fed," ujar Tim Phintraco menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....