Awal Pekan, Rupiah Berbalik Melemah saat Pembukaan Perdagangan
- 05 Okt 2026 10:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mengacu data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,19 persen atau 34 poin ke level Rp17.916 per dolar AS
- Rupiah mendapatkan peluang untuk penguatan, tapi masih menghadapi banyak risiko dari global
- Pelemahan data tenaga kerja di AS meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan di awal pekan ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,19 persen atau 34 poin ke level Rp17.916 per dolar AS.
Pada akhir pekan sebelumnya, rupiah menguat 0,47 persen pada penutupan perdagangan. Sehingga nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.882 per dolar AS.
"Rupiah mendapatkan peluang untuk penguatan, tapi masih menghadapi banyak risiko dari global," kata Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa dalam analisisnya, Senin, 5 Oktober 2026.
Indeks dolar AS hari ini melemah dan diprakirakan akan bergerak di kisaran 101,90-102,21. Indeks dolar dipengaruhi oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan data ketenagakerjaan non-pertanian di AS.
"Momentum pasar tenaga kerja AS melemah tajam pada September 2026. Data non-farm payrolls hanya bertambah 29 ribu, lebih rendah dari ekspektasi 84 ribu," ujar Jessica.
Tingkat pengangguran di AS juga naik menjadi 4,2 persen dan pertumbuhan upah melambat menjadi 3 persen secara tahunan.
"Kami melihat pelemahan data tenaga kerja meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Meskipun inflasi inti yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang resilien akan menjaga stance higher for longer the Fed," kata Jessica menjelaskan.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB) relatif stabil. Imbal hasil tenor 10 tahun bertahan di level 7,17 persen dan tenor 2 tahun turun tipis menjadi 6,81 persen.
"Spread antara INDOGB dan US Treasury masih berada di kisaran 200 basis poin," ucap Jessica. Spread nya masih menarik di tengah risiko tingkat bunga global yang tinggi.
Di sisi lain, Jessica memcernati dukungan Bank Indonesia (BI) untuk program 3 juta rumah. BI memberikan dukungan berupa insentif makroprudensial sebesar Rp118 triliun.
Insentif tersebut disertai Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV) sebesar 100 persen. BI juga memperluas underlying repo untuk surat berharga SMF dan SMI.
Surat berharga PT SMF dan PT SMI adalah instrumen berupa obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Dua surat berharga itu diterbitkan oleh dua lembaga Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan.
"Kami melihat kebijakan ini memperkuat stance BI yang pro-growth (pro-pertumbuhan) dengan mengurangi tekanan pembiayaan di sektor perbankan. Langkah BI ini juga untuk memperkuat transmisi likuiditas ke kredit perumahan," kata Jessca menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....