BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Lanjutkan Penguatan pada Penutupan Perdagangan

  • 23 Sep 2026 19:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,37 persen atau 66 poin ke posisi Rp17.818 per dolar AS
  • Penguatan rupiah ditopang oleh keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga sebesar 5,75 persen serta perkembangan eksternal
  • Presiden Trump mengatakan, sudah menyelesaikan pertemuang dengan delegasi Iran di New York selama tiga jam

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah bergerak menguat terhadap dolar AS sepanjang hari ini, hingga penutupan perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,37 persen atau 66 poin ke posisi Rp17.818 per dolar AS.

Penguatan rupiah ditopang oleh keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga sebesar 5,75 persen. Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan akan all out menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Alhamdulillah, respons pasar hari ini bagus, rupiah menguat. Tentunya kita akan terus memperhatikan pergerakan di market,” kata Destry dalam keterangan pers di gedung BI di Jakarta, Rabu, 23 September 2025.

Selain untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI mempertahankan suku bunga untuk menjaga laju inflasi di kisaran target. Selain terus mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Stablitas sangat penting untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Sehingga membuka ruang untuk pertumbuhan ekonomi,”ujar Destry.

Sementara itu, Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mencermati pengumuman pemerintah atas selesainya pembayaran utang BLBI. Dengan demikian, beban utang yang harus diibayarkan sejak krisis keuangan Asia tahun 1997-1998 sudah dituntaskan.

“Pemerintah melalui Menteri Keuangan Suahasil Nazara menekankan, proses panjang ini harus menjadi pembelajaran luar biasa. Utamanya dalam mengelola keuangan negara di masa depan. agar terhindar dari krisis serupa,”ujar Ibrahim.

Kondisi eksternal juga ikut mendorong penguatan rupiah hari ini. Presiden Trump mengatakan, sudah menyelesaikan pertemuang dengan delegasi Iran di New York selama tiga jam.

“Pertemuan itu memunculkan harapan, negosiasi pada akhirnya dapat membantu mengakhiri konflik. Disamping itu, dapat meredakan gangguan pasokan di sekitar Selat Hormuz,” kata Ibrahim lagi.

Pasar, tambah Ibrahim, juga mencermati pernyataan pejabat the Fed wilayah Richmond, Thomas Barkni. Barkin pada Selasa waktu AS mengatakan, tekanan inflasi akan membutuhkan waktu untuk mereda.

“Karenanya kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk mencapai harga menuju target inflasi 2 persen yang ditetapkan The Fed. Selain itu, risiko terhadap inflasi saat ini lebih besar dibandingkan risiko terhadap pencapaian lapangan kerja,” kata Ibrahim menirukan pernyataan Barkin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....