Penerbitan SBN 2026 Sesuai Rencana, Outlook Defisit APBN 2,85 Persen
- 18 Sep 2026 19:38 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengkonfirmasi strategi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) tetap berjalan sesuai rencana hingga akhir tahun 2026.
- Outlook defisit APBN 2026 ditetapkan sebesar 2,85 persen dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan pembiayaan yang optimal.
- Lelang Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) akan terus dilaksanakan setiap hari Selasa sebagai bagian dari strategi pembiayaan berkelanjutan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto menyatakan strategi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) hingga akhir 2026 tetap sesuai rencana. Strategi tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan hingga akhir tahun dan outlook defisit APBN 2026 sebesar 2,85 persen.
Pernyataan itu disampaikan Suminto dalam konferensi pers APBN KiTA, di Jakarta, Jumat, 18 September 2026. Ia menjelaskan lelang Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tetap dilakukan setiap Selasa.
“Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan hingga akhir tahun, dari sisi instrumen mix kami, masih sesuai dengan strategi di lelang SUN dan SBSN. Setiap hari Selasa, tetap seperti biasa,” kata Suminto.
Suminto menegaskan penerbitan SBN domestik tetap dijaga agar tidak menambah risiko pasokan. Menurutnya, tambahan penerbitan melalui lelang yang lebih besar berpotensi meningkatkan yield SBN.
“Jadi kami ingin pastikan bahwa supply risk penerbitan SBN domestik akan tetap kami jaga. Artinya tidak akan ada tambahan penerbitan melalui lelang yang lebih besar yang menambah risiko supply SBN yang tentu akan potentially meningkatkan yield,” ucap Suminto.
Ia menyebut strategi pembiayaan yang berjalan sesuai rencana diharapkan dapat menjaga tingkat imbal hasil SBN. “Jadi dengan strategi yang on track, kami harapkan kami tetap dapat menjaga level timbal hasil dari SBN kita,” ujarnya.
Selain lelang SUN dan SBSN, pemerintah masih akan menerbitkan dua seri SBN ritel. Instrumen tersebut terdiri atas Sukuk Tabungan dan SBN ritel konvensional.
Pemerintah juga memiliki opsi menerbitkan SBN dalam valuta asing dengan mempertimbangkan kondisi pasar. Adapun, pinjaman program dari Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) telah tersedia untuk dicairkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....