Harga Minyak Dunia Naik, IHSG Turun 1,49 Persen ke 6.490,91 di Jeda Siang Perdagangan

  • 11 Sep 2026 13:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG turun 1,49 persen atau 98,43 poin, ditutup pada level 6.490,91 pada jeda siang perdagangan Jumat, 11 September 2026.
  • Indeks dibuka pada angka 6.552,79 dengan level tertinggi menyentuh 6.552,80 dan level terendah di posisi 6.462,96 selama sesi pertama.
  • Pergerakan IHSG menunjukkan tekanan pasar setelah mengalami pelemahan sejak awal perdagangan hari Jumat tersebut.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Jumat, 11 September 2026. Hingga penutupan sesi pertama, IHSG turun 1,49 persen atau 98,43 poin ke level 6.490,91, setelah dibuka pada angka 6.552,79.

Indeks sempat menyentuh level tertinggi di angka 6.552,80, sedangkan level terendah berada pada posisi 6.462,96. Pergerakan tersebut menunjukkan IHSG berada dalam tekanan setelah mengalami pelemahan pada awal perdagangan hari ini.

Sebelumnya, IHSG diprakirakan melemah dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia dan prospek kenaikan suku bunga.

Pada Kamis kemarin, IHSG ditutup turun 1,33 persen ke level 6.589 disertai net sell (jual bersih) saham sebesar Rp747,51 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBCA, BBRI, ISAT, DSSA, dan INDY.

“IHSG hari ini akan menguji level 6.525. Jika tembus level tersebut, IHSG berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.400-6.460,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Jumat, 11 September 2026.

Hari ini, harga minyak mentah Brent sudah tembus ke level USD108 per barel. Sedangkan harga minyak mentah WTI berada di level USD102,48 per barel.

Tim Phintraco mencermati data penjualan ritel bulan pada Juli 2026 yang naik sebesar 1,1 persen secara tahunan. Penjualan ritel mulai naik setelah tiga bulan terakhir mengalami penurunan.

Berdasarkan data Bank Indonesia, masyarakat masih memilih untuk membeli barang konsumsi pokok. Terlihat dari kenaikan penjualan eceran sektor makanan, minuman dan tembakau.

Penjualan sektor tersebut naik menjadi 3,6 persen di bulan Juli 2026 dari 2,4 persen di bulan Juni. Sementara itu, penjualan ritel untuk bulan Agustus turun 0,1 persen secara bulanan.

Tim Phintraco juga mencermati defisit APBN bulan Juli 2026 sebesar Rp235,6 triliun atau 0,91 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). “Berdasarkan defisit hingga Juli ini, pemerintah diperkirakan masih memiliki ruang fiskal yang cukup memadai,” ucap Tim Phintraco.

Defisit bulan Juli masih relatif kecil dibandingkan target defisit APBN 2026 sebesar Rp734.3 triliun atau 2,85 persen dari PDB. Namun, anggaran negara menghadapi tantangan global, terutama dari kenaikan harga minyak dunia.

“Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama dan Pemerintah tidak mengelola anggaran dengan efisien. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran potensi melebarnya defisit APBN,” ujar Tim Phintraco.

Dari eksternal, bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Sehingga suku bunga ECB menjadi 2,65 persen di bulan Agustus 2026.

“ECB menyatakan konflik Timur Tengah terus memicu tekanan inflasi. Perkiraannya, inflasi masih akan di atas target 2 persen untuk jangka waktu cukup lama,” kata Tim Phintraco menutup analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....