IHSG Dibuka Naik di Level 6.700,84, Investor Waspadai Profit Taking

  • 09 Sep 2026 09:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG membuka perdagangan Rabu, 9 September 2026 pada level 6.700,84 dengan kenaikan 14,40 poin atau 0,22 persen dari penutupan sebelumnya.
  • Penutupan sesi II perdagangan Selasa, 8 September 2026 mencatat level 6.686,44 yang menunjukkan penguatan indeks.
  • Momentum positif berlanjut ke sesi pembukaan hari berikutnya, mengindikasikan sentimen pasar yang konsisten di atas level sebelumnya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan pada pembukaan perdagangan Rabu, 9 September 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG berada pada level 6.700,84 atau naik 14,40 poin (0,22 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan akhir sesi II perdagangan Selasa, 8 September 2026. Ini ditandai dengan naiknya indeks ke level 6.686,44.

"Hari ini IHSG akan menguji level 6.700-6.750. Namun waspadai aksi profit taking (ambil untung) yang dapat menyebabkan IHSG balik arah," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Rabu, 9 September 2026.

Menurut Tim Phintraco, IHSG bergerak di teritori positif, terutama didukung oleh penguatan beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar. Selain itu, dibukanya kembali Bandara Soekarno-Hatta menjadi sentimen positif, termasuk data cadangan devisa Agustus yang mengalami kenaikan.

"Sekarang, investor akan mencermati data indeks keyakinan konsumen (IKK) yang akan dirilis Bank Indonesia. IKK diperkirakan sedikit naik di level 117 pada Agustus 2026 dari 116,8 di bulan Juli," kata Tim Phintraco.

Pergerakan IHSG hari ini, masih akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Teluk Persia yang mendorong kenaikan harga minyak. Penguatan harga minyak Brent mendekati level USD100 per barel membuat defisit APBN 2026 kembali berpotensi melebar.

Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak dipatok USD70 per barel. "Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, juga akan berpotensi mendorong tekanan inflasi di domestik," ucap Tim Phintraco.

Sektor yang berpotensi paling terkena dampak negatif adalah transportasi, logistik, manufaktur dan barang konsumsi. Sebaliknya sektor energi (migas dan penunjangnya), serta komoditas terkait energi diperkirakan akan paling diuntungkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....