Pelemahan Rupiah Berlanjut Hari Ini, Tertekan Eskalasi Konflik dan Harga Minyak
- 02 Sep 2026 09:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,15 persen atau 26 poin ke posisi Rp17.770 per dolar AS
- Rupiah diprakirakan melemah di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia
- Harga minyak ditutup naik hampir 5 persen pada Selasa kemarin seiring eskalasi ketegangan AS-Iran
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS dalam perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,15 persen atau 26 poin ke posisi Rp17.770 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah hari ini makin merosot dibandingkan saat penutupan perdagangan hari sebelumnya. Pada Selasa kemarin, rupiah ditutup turun 0,12 persen atau 22 poin ke posisi Rp17.744 per dolar AS.
Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong memprakirakan pergerakan rupiah hari ini akan melemah. Faktor yang mempengaruhi masih didominasi faktor eksternal yang mendorong penguatan dolar AS.
"Rupiah diprakirakan melemah di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Imbal hasil hasil obligasi AS yang meningkat dan menguat indeks dolar AS," kata Lukman dalam analisisnya, Rabu, 2 September 2026.
Nilai tukar rupiah, tambah Lukman, akan bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat di atas level 99.
Tindakan AS yang kembali melakukan agresi militer ke Iran, membuat situasi di Timur Tengah kembali memanas. Sehingga harga minyak dunia kembali melonjak dan memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi.
Harga minyak ditutup naik hampir 5 persen pada Selasa kemarin seiring eskalasi ketegangan AS-Iran. Imbasnya, imbal hasil obligasi AS naik ke level 4,79 persen, akibat meningkatnya kekhawatiran akan inflasi.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS diikuti dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB). "Surat Berharga Negara (SBN) naik 3 basis poin menjadi 7,06 persen untuk tenor 10 tahun," kata Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa.
Sedangkan SBN tenor 2 tahun naik 4 basis poin menjadi 6,71 persen. "Koreksi imbal hasil lebih disebabkan oleh faktor ekstern, dibandingkan pelemahan sentimen domestik," ucap Jessica.
Dalam kondisi itu, menurutnya, outlook SBN tetap konstruktif. "Meskipun tekanan higher-for-longer global ( tingkat suku bunga global yang tinggi dalam waktu lebih panjang) masih bertahan," kata Jessica menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....