OJK Tekankan Literasi Seiring Pertumbuhan Keuangan Digital
- 27 Agt 2026 13:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- OJK menilai pertumbuhan pengguna keuangan digital harus diikuti peningkatan literasi.
- Inklusi tanpa literasi dapat meningkatkan risiko penipuan digital dan investasi ilegal.
- OJK meluncurkan buku saku keuangan digital untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya literasi seiring pesatnya pertumbuhan pengguna keuangan digital Indonesia. Menurut OJK, peningkatan jumlah konsumen tanpa pemahaman memadai dapat menimbulkan kerentanan baru.
Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Hernawan Bekti Sasongko, mengatakan jumlah konsumen perdagangan aset keuangan digital mencapai 22,93 juta akun. Ia menilai skala tersebut menunjukkan keuangan digital telah menjadi bagian dari sistem keuangan nasional.
Hernawan mengingatkan pertumbuhan pengguna perlu diimbangi pemahaman terhadap produk dan risiko keuangan digital. Menurutnya, masyarakat yang belum memiliki literasi memadai lebih rentan terhadap penipuan digital dan investasi ilegal.
“Inklusi tanpa literasi adalah risiko. Pertumbuhan jumlah pengguna yang cepat, apabila tidak diimbangi pemahaman yang memadai, justru menciptakan kerentanan baru terhadap penipuan digital, investasi ilegal, dan aktivitas yang merugikan masyarakat,” kata Hernawan dalam OJK Digination 2026, Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
Hernawan menegaskan keberhasilan transformasi keuangan digital tidak hanya diukur dari jumlah pengguna. Menurutnya, inovasi harus mampu menciptakan ekosistem yang dipercaya, aman digunakan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena itu, OJK meluncurkan buku saku keuangan digital untuk membantu masyarakat memahami industri serta kerangka regulasi yang berlaku. Hernawan berharap asosiasi dan pelaku industri turut menyebarluaskan informasi tersebut kepada konsumen, komunitas, dan generasi muda.
Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari. Ia menyebut kecerdasan buatan atau AI kini semakin banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan, termasuk transaksi.
“AI bukan lagi wacana masa depan. AI sudah menjadi bagian dari cara rakyat Indonesia hidup dan bekerja hari ini,” kata Nezar.
Menurut Nezar, perkembangan teknologi juga harus diikuti peningkatan kemampuan masyarakat dalam memahami risiko dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Ia menilai kebutuhan tersebut semakin penting karena transformasi digital berlangsung cepat di berbagai sektor.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....