Pasar Sedang Waspada, Rupiah Anjlok saat Penutupan Perdagangan

  • 11 Agt 2026 21:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun hingga 106 poin atau 0,60 persen ke posisi Rp17.861 per dolar AS
  • Anjloknya nilai tukar rupiah disebabkan oleh sikap pasar yang sedang waspada jelang 'rebalancing' MSCI untuk bulan Agustus
  • Faktor lain yang mendorong pelemahan rupiah adalah data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah merosot tajam terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup turun hingga 106 poin atau 0,60 persen ke posisi Rp17.861 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, anjloknya nilai tukar rupiah disebabkan oleh sikap pasar yang sedang waspada. “Pasar bersikap waspada terhadap agenda tinjauan MSCI untuk bulan Agustus yang dijadwalkan pada Rabu, 12 Agustus 2026,” kata Ibrahim, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurutnya, pelemahan rupiah yang tajam sebenarnya tertahan oleh penunjukkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal gubernur Bank Indonesia. Penunjukkan ini meredakan kekhawatiran akan kepemimpinan di bank sentral, pasca mundurnya Perry Warjiyo sebagai gubernur BI.

Faktor lain yang mendorong pelemahan rupiah adalah data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Juli yang melemah menjadi 116,8. IKK bulan Juli, kata Ibrahim, merupakan yang terendah sejak September 2025.

Selain itu, data penjualan eceran secara bulanan untuk bulan Juni 2026 tumbuh sebesar 0,7 persen. Perkembangan tersebut sejalan dengan terjaganya permintaan selama periode hari besar keagamaan dan libur sekolah

Dari faktor eksternal, pelaku pasar mengkhawatirkan konflik Timur Tengah akan memanas kembali. Setelah Iran dan AS saling tuntut kompensasi atas serangan militer ke wilayah masing-masing.

Iran juga menyatakan masih menutup Selat Hormuz. Berbeda dengan klaim Presiden Trump yang mengatakan Selat Hormuz tetap terbuka.

Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman mengancam akan membuka front baru dalam konflik di Timur Tengah. Houthi menyatakan akan menyerang infrastruktur minyak di Laut Merah.

“Ancaman Houthi kembali memicu kecemasan akan gangguan pasokan minyak. Sekaligus mendorong kenaikan harga minyak,” ucap Ibrahim. Selain itu, pelaku pasar juga menunggu data inflasi di AS, berupa data Indesk Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen.

Data tersebut menjadi petunjuk bagi pelaku pasar, terhadap prospek kebijakan suku bunga AS. Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen, diprakirakan akan turun, sehingga meredakan kekhawatiran akan kemungkinan the Fed menaikkan suku bunga.

“Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan sekira 44 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September. Ekspektasi itu turun dari 67 persen seminggu sebelumnya,” kata Ibrahim menutu analisisnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....