Pasar Harapkan Perdamaian di Timur Tengah, Rupiah Ditutup Menguat
- 05 Agt 2026 21:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mengacu data Bloomberg, rupiah terpantau naik 0,52 persen atau 94 poin ke posisi Rp17.933 per dolar AS saat penutupan perdagangan
- Pasar merespon positif pernyataan Qatar bahwa para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang di Timur Tengah
- Para pelaku pasar menunggu data Perubahan Ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP). Termasuk data Non-Farm Payrolls (NFP) di hari Jumat
RRI.CO. ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah bergerak menguat sepanjang hari ini hingga penutupan perdagangan. Mengacu data Bloomberg, rupiah terpantau naik 0,52 persen atau 94 poin ke posisi Rp17.933 per dolar AS saat penutupan perdagangan.
Rupiah mempertahankan penguatannya terhadap dolar AS karena dolar seiring sentimen positif pasar. Utamanya pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
“Pasar merespon positif pernyataan Qatar bahwa para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang di Timur Tengah. Pernyataan itu mendorong penurunan harga minyak,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu, 5 Agustus 2026.
Harga minyak Brent ditutup di bawah USD80 per barel, capaian pertama sejak awal konflik pada 13 Juli 2026. Meski demikian, prospek perdamaian masih rentan, karena Iran sendiri menolak telah melakukan negosiasi dengan AS melalui Qatar.
Sementara itu para pengamat kebijakan, kata Ibrahim, memantau data tenaga kerja AS. Hal ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga.
“Para pelaku pasar menunggu data Perubahan Ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP). Termasuk data Non-Farm Payrolls (NFP) di hari Jumat,” ucap Ibrahim.
Data-data tersebut diharapkan dapat memberi petunjuk yang jelas tentang pasar tenaga kerja AS dan jalur kebijakan moneter. Data Ketenagakerjaan ADP untuk bulan Juli menunjukkan bahwa perusahaan swasta diperkirakan telah mempekerjakan 70.000 orang.
“Angka itu turun dari 98.000 pekerjaan yang tercipta pada bulan Juni. Angka ketenagakerjaan yang lebih rendah akan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen secara tahunan. Data pertumbuhan ekonomi yang di rilis BPS, tambah Ibrahim, berbanding terbalik dengan para ekonom.
Para ekonom memprakirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 antara 4,8 persen sampai 4,9 persen. Perlambatan ekonomi dipicu oleh tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, dan tata kelola fiskal di dalam negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....