Rupiah Diperkirakan Berpeluang Menguat terhadap Dolar AS Hari Ini

  • 05 Agt 2026 10:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mengacu data Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,48 persen atau 86 poin ke posisi Rp17.941 per dolar AS
  • Dolar AS mengalami tekanan setelah rilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) di AS
  • Namun penguatan rupiah masih terbatas menjelang rilis data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (PDB) kuartal II siang ini

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Mengacu data Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,48 persen atau 86 poin ke posisi Rp17.941 per dolar AS.

Pada Selasa kemarin, rupiah turun 0,17 persen ke posisi Rp18.027 per dolar AS saat penutupan perdagangan. "Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan hari ini" kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Rabu, 5 Agustus 2026.

Dolar AS mengalami tekanan setelah rilis data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS). Survei yang dilakukan untuk mengetahui perputaran tenaga kerja dan lowongan kerja.

Data JOLTS Amerika Serikat untuk bulan Juli 2026 lebih lemah dari perkiraan. Angka pembukaan lapangan kerja tercatat sebesar 7,35 juta, sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 7,4 juta pekerjaan.

Di sisi lain ada optimisme pembukaan kembali Selat Hormuz setelah AS mengklaim hampir mencapai kesepakatan dengan Iran. Perkembangan ini membuat dolar AS melemah sehingga membuka peluang penguatan nilai tukar rupiah.

"Namun penguatan rupiah masih terbatas menjelang rilis data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (PDB) kuartal II siang ini. Rupiah diprakirakan akan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS," ucap Lukman.

Sementara itu, indeks dolar AS bergerak melemah di rentang 99,85 hingga 99,88. Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa menilai faktor domestik masih membebani sentimen pasar.

Meski demikian, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) masih menarik karena mengalami kenaikan imbal hasil. Imbal hasil tenor 10 tahun naik menjadi 7,34 persen, dan tenor 2 tahun imba hasilnya bertahan di 7,04 persen.

Sehingga spread nya dengan obligasi Amerika Serikat (UST) menyempit menjadi 263,7 basis poin (bps). "Premi imbal hasil Indonesia tetap menarik dan mendukung minat investor asing di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," kata Jessica.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....