IHSG Naik 0,57 Persen ke Level 6.270 saat Jeda Siang Perdagangan

  • 04 Agt 2026 13:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG naik 0,57 persen ke level 6.270,15 pada penutupan sesi I perdagangan Selasa 4 Agustus 2026 dibandingkan pada saat pembukaan perdagangan.
  • Tim Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi "rebound" hingga ke level 6.250–6.300, didukung membaiknya PMI manufaktur Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di posisi menguat saat jeda siang perdagangan, Selasa 4 Agustus 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG berada di level 6.270,15 atau naik 35,65 poin (0,57 persen) dibandingkan saat pembukaan perdagangan.

Penguatan tersebut sejalan dengan proyeksi Tim Analis Phintraco Sekuritas yang memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan kenaikan pada perdagangan kali ini. Sebelumnya, IHSG turun tipis 0,03 persen ke level 6.234,50 pada penutupan perdagangan Senin 3 Agustus 2026.

“IHSG berpotensi berbalik menguat (rebound) dan menguji resistansi di level 6.250-6.300,” katanya. Menurut Tim Phintraco, sentimen pasar masih dipengaruhi sejumlah data ekonomi yang dirilis sehari sebelumnya.

Salah satunya, indeks PMI Manufaktur Indonesia yang kembali memasuki fase ekspansi dengan berada di level 50,2 pada Juli 2026. “Perkembangan itu sekaligus menandai PMI manufaktur Indonesia mencapai level tertinggi sejak Februari 2026,” katanya.

Kemudian neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar USD450 juta atau setara Rp8,14 triliun. Ini berarti lebih rendah dibandingkan defisit pada Mei 2026 yang mencapai USD1,61 miliar.

Tim Phintraco juga mencatat kinerja ekspor tumbuh 8,84 persen secara tahunan pada Juni 2026. Di sisi lain, impor mengalami peningkatan 34,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laju inflasi tahunan melambat menjadi 2,88 persen pada Juli 2026 dari 3,34 persen pada bulan sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi deflasi bulanan yang terjadi selama Juli 2026.

“Inflasi tahunan melambat akibat deflasi 0,14 persen pada Juli 2026,” ucanya. Deflasi disebabkan oleh panen raya yang mendorong penurunan harga pada kelompok makanan, minum dan tembakau.

Menurut Tim Phintraco, penurunan harga BBM nonsubsidi pada awal Agustus 2026 juga berpotensi menahan laju inflasi. Investor turut mencermati pelemahan harga minyak dunia yang mendorong penguatan bursa saham Amerika Serikat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....