Rupiah Tinggalkan Level Rp18.000 dalam Penutupan Perdagangan Hari Ini

  • 16 Jul 2026 21:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,45 persen atau 82 poin menjadi Rp17.986 per dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini
  • Penguatan rupiah dipengaruhi oleh menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed
  • Namun, para investor tetap waspada melihat perkembangan perang di Timur Tengah yang kian memanas

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah meninggalkan level Rp18.000 dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,45 persen atau 82 poin menjadi Rp17.986 per dolar AS.

Penguatan rupiah dipengaruhi oleh menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed. Namun semakin memanasnya konflik di Timur Tengah dapat kembali menekan mata uang rupiah.

“Harga produsen AS secara tak terduga turun 0,3 persen pada bulan Juni, menyusul data inflasi konsumen yang lebih rendah awal pekan ini. Laporan tersebut memperkuat tanda-tanda meredanya tekanan harga, sehingga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Kamis, 16 Juli 2026.

Namun, para investor tetap waspada melihat perkembangan perang di Timur Tengah yang kian memanas. Presiden Trump masih terus melakukan serangan militernya yang brutal ke wilayah Iran.

Perang di Timur Tengah dapat membalikkan kembali pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar AS. Karena perang mendorong kenaikan harga minyak mentah yang dapat memicu inflasi naik lagi di AS.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati antisipasi yang akan dilakukan pemerintah untuk mengendalikan inflasi. Utamanya inflasi dari komponen harga bergejolak atau volatile food dan meningkatnya biaya industri.

Biaya industri yang membengkak karena naiknya harga kemasan, dapat mendorong kenaikan harga barang. Untuk mengantisipasi inflasi harga pangan, pemerintah akan menggulirkan bantuan beras untuk tiga bulan sekaligus, mulai bulan Agustus mendatang.

Sementara itu, Bank Indonesia menyebut penilaian S&P memberi penegasan akan independensi BI. Belakangan ini, memang banyak kalangan yang mempertanyakan independensi BI.

“Buktinya BI bisa memutuskan kenaikan suku bunga. Kalau tidak independen, BI tidak bisa melakukan itu,” kata Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti dalam acara Investmen Forum 2026 di Jakarta.

BI juga menegaskan menjaga stabilitas masih menjadi fokus utama BI saat ini. Selain menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga laju inflasi, BI juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....