IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan setelah Rilis Rating S&P
- 14 Jul 2026 07:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari ini IHSG berpotensi naik kembali jika menembus level 6.050 dengan target di 6.150 short term
- Katalisnya adalah hasil rating S&P yang menetapkan penilaian untuk Indonesia di posisi 'stable outlook
- Pernyataan Trump memicu lonjakan harga minyak dunia
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprakirakan akan bergerak naik dalam perdagangan hari ini, Selasa 14 Juli 2026. Melanjutkan kenaikan IHSG pada penutupan perdagangan Senin kemarin sebesar 1,92 persen ke level 6.037,84.
Namun investor asing masih melakukan aksi jual saham dengan net sell (jual bersih) senilai Rp413 miliar. BNI Sekuritas mencatat saham yang paling banyak dijual asing adalah BBCA, MAPI, ASII, TINS, dan DEWA.
"Hari ini IHSG berpotensi naik kembali jika menembus level 6.050 dengan target di 6.150 short term," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Selasa, 14 Juli 2026. Katalisnya adalah hasil rating S&P yang menetapkan penilaian untuk Indonesia di posisi 'stable outlook'.
"IHSG diperkirakan akan bergerak di rentang 5.970-6.000 untuk level support. Sedangkan level resistansi di rentang 6.100-6.150," ucap Fanny.
Dari sisi eksternal, Fanny mencermati kenaikan harga minyak dunia yang menyebabkan bursa saham di AS terkoreksi Senin kemarin. Sentimen pasar negatif setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kembali blokade terhadap pengiriman kapal Iran melalui Selat Hormuz.
Trump juga mengatakan akan mengenakan biaya sebesar 20 persen terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. Biaya itu disebut Trump sebagai biaya pengamanan untuk melintasi selat strategis itu.
"Pengumuman Trump memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi," ujar Fanny. Harga minyak WTI melonjak 9,4.persen menjadi USD78 per barel dan minyak Brent naik 9,6 persen menjadi USD83 per barel.
Di bursa saham AS, Indeks S&P 500 turun 0,79 persen. Nasdaq Composite melemah 1,55.persen, dan Dow Jones Industrial Average berkurang 0,26 persen.
Sedangkan bursa saham di kawasan Asia Pasifik, ditutup beragam pada Senin kemarin seiring semakin panasnya konflik di Timur Tengah. Iran menyatakan menutup kembali Selat Hormuz di tengah klaim AS yang ingin menguasai selat itu.
Selain itu, para investor memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed. Pada saat yang sama, Ketua Fed Kevin Warsh untuk pertama kalinya akan bicara di hadapan Kongres pada Selasa waktu setempat.
"Pasar juga menantikan data inflasi AS periode bulan Juni yang akan dirilis Selasa. Pasar memprakirakan inflasi di AS sedikit melambat menjadi 4,2 persen setelah harga bensin sempat turun di AS," ujar Fanny.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 1,9 persen, di Korea Selatan, indeks Kospi anjlok 9 persen. Sedangkan, indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,16 persen, ASX 200 Australia menguat 0,03 persen, Taiex Taiwan menguat 0,06 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....