Sejumlah Data Ekonomi di luar Perkiraan, IHSG Diprakirakan Terkonsolidasi
- 02 Jul 2026 07:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Secara teknikal, IHSG berpeluang terkonsolidasi pada perdagangan Kamis 2 Juli 2026 dan akan bergerak pada kisaran 5.600-5.800.
- Hal ini akibat sejumlah data ekonomi yang ternyata di luar perkiraan seperti Purchasing Manufacturing Index (PMI), tingkat inflasi, dan neaca perdagangan Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan bakal terkonsolidasi pada perdagangan Kamis 2 Juli 2026. Sehari sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,92 persen ke level 5.695.
“Secara teknikal, IHSG berpeluang terkonsolidasi dan akan bergerak pada kisaran 5.600-5.800,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas. Sejumlah faktor disebut akan mempengaruhi pergerakan IHSG seperti nilai tukar rupiah yang masih melemah.
Tim Phintraco mencermati Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia per Juni 2026 yang turun ke level 46,9. Sebulan sebelumnya, PMI Indonesia masih berada di level 50 atau zona ekspansi.
Level PMI manufaktur tersebut merupakan yang terendah sejak Juni 2025, sekaligus menandakan kontraksi kedua pada tahun ini. “Penurunan PMI antara lain disebabkan koreksi pada pesanan baru dan turunnya penjualan ekspor,” katanya.
Kemudian secara tak terduga neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026. Ini akibat penurunan ekspor hingga 5,73 persen sementara impor tumbuh 22,16 persen secara tahunan.
Tim Phintraco menyebutkan penurunan ekspor itu di luar ekspektasi yang sebelumnya diperkirakan tumbuh 6,4 persen. Sebaliknya pertumbuhan impor ternyata lebih tinggi dari estimasi yang sebesar 19,5 persen.
Sementara itu, laju inflasi terakselerasi ke level 3,34 persen per Juni 2026 dari 3,08 persen sebulan sebelumnya. Jelas di atas perkiraan yang sebesar 3,2 persen secara tahunan.
"Ini merupakan level inflasi tertinggi sejak Maret 2026, tetapi masih dalam kisaran target Bank Indonesia,” kata Tim Phintraco. Kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026 menjadi pemicu utama melonjaknya angka inflasi.
Di sisi lain, Fitch Ratings menilai cadangan devisa Indonesia tetap tertekan. Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan BI rate sebanyak 100 basis poin (bps).
"Sentimen investor masih lemah akibat kekhawatiran akan kredibilitas kebijakan dan disiplin fiskal,” ucap Tim Phintraco. Termasuk mengenai rencana ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....