Rupiah Berbalik Melemah Saat Pembukaan Perdagangan, Sentuh Level Rp17.985

  • 26 Jun 2026 11:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dalam pembukaan perdagangan hari ini rupiah terpantau merosot ke level Rp17.985 per dolar AS
  • Pelemahan dipicu Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) menunjukkan kenaikan pada inflasi inti
  • Di sisi lain, imbal hasil SBN Indonesia justru turun menjadi 7,17 persen untuk tenor 10 tahun. Begitu pula untuk tenor dua tahun, imbal hasilnya menjadi 7,16 persen

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS. Dalam pembukaan perdagangan hari ini rupiah terpantau merosot ke level Rp17.985 per dolar AS.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah turun 0,23 persen atau 42 poin. Pada Kamis, 25 Juni 2026 kemarin, rupiah ditutup menguat tipis 0,05 persen ke posisi Rp17.943 per dolar AS

"Rupiah diprakirakan melemah terhadap dolar AS setelah rilis data inflasi Amerika Serikat," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Jumat 26 Juni 2026. Pelemahan dipicu Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) menunjukkan kenaikan pada inflasi inti.

"Kenaikannya mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023," ucap Lukman. Inflasi PCE inti pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,1 persen, lebih tinggi dibandingkan April sebesar 3,8 persen.

Data inflasi PCE inti merupakan acuan utama bank sentral AS dalam mempertimbangkan suku bunga kebijakan. The Fed sendiri sudah mengisyaratkan kebijakan moneter yang lebih ketat dan kenaikan suku bunga tahun ini karena inflasi tinggi.

"Nilai tukar rupiah hari ini kemungkinan akan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS," ucap Lukman. Sedangkan indeks dolar AS diprakirakan menguat di kisaran 101,43-101,51.

Sentimen global yang mulai membaik karena dibukanya Selat Hormuz, berbalik arah karena insiden di Selat Hormuz. Pasukan Garda Revolusi Iran melakukan tembakan peringatan ke sebuah kapal berbendera Singapura.

Sementara itu kapal tanker MT Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS), dikabarkan berhasil keluar dari Selat Hormuz. Situasi di kawasan selat tersebut masih belum stabil, dan berisiko kembali memicu ketegangan.

Di sisi lain, imbal hasil SBN Indonesia justru turun menjadi 7,17 persen untuk tenor 10 tahun. Begitu pula untuk tenor dua tahun, imbal hasilnya menjadi 7,16 persen.

Tim Analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan, penurunan imbal hasil seiring pasar yang semakin mengapresiasi kenaikan suku bunga BI. Pada bulan Juni kenaikan suku bunga BI sebesar 50 basis poin, sehingga total kenaikan sejak Mei adalah 100 bps.

"Imbal hasil yang tetap berada di atas level 7 persen mulai berhasil mengembalikan daya tarik aset keuangan Indonesia. Hal ini tercermin dari arus masuk modal asing sekitar Rp12 triliun pada bulan Juni," kata Tim Mirae

Kenaikan kepemilikan asing di SBN menjadi 12,7 persen. Selain itu CDS Indonesia tenor 5 tahun kembali di bawah 90bps.

CDS adalah Credit Default Swap. Instrumen ini berfungsi seperti "jaminan" terhadap risiko bayar (default) pada obligasi atau utang.

"Keberlanjutan arus masuk modal asing ke surat berharga domestik tersebut, tetap sangat bergantung pada kondisi domestik. Misalnya, peningkatan kredibilitas kebijakan, tata kelola pemerintahan, dan reformasi struktural," ujar Tim Mirae Asset.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....