IHSG Tercatat Turun hingga 2,42 Persen dalam Sepekan

  • 02 Mei 2026 15:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Laporan mingguan BEI menyebutkan, selama periode 27-30 April 2026 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,42 persen
  • Pelaku pasar masih bersikap hati-hati akibat sentimen negatif utamanya dari faktor eksternal. Konflik AS-Iran dan blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut, menyebabkan harga minyak dunia kembali naik
  • Pekan depan pelaku pasar akan mencermati data ekonomi Indonesia yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik, utamanya data pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026

RRI.CO.ID, Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan kemarin bergerak melemah, semua indikator mengalami penurunan. Laporan mingguan BEI menyebutkan, selama periode 27-30 April 2026 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,42 persen.

IHSG sebelum libur May Day ditutup di level 6.956, 80, lebih rendah dibandingkan akhir pekan sebelumnya di level 7.129. Kapitalisasi pasar juga turun 2,78 persen dari Rp12.736 triliun di pekan sebelumnya menjadi Rp12.382 triliun di pekan ini.

Rata-rata nilai transaksi sepekan ini juga turun sebesar 6,81 persen menjadi Rp18,27 triliun. Sedangkan, pada pekan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi tercatat sebesar Rp19,61 triliun.

Rata-rata frekuensi transaksi harian juga turun 15,02 persen menjadi 2,34 juta kali transaksi. Pada pekan sebelumnya rata-rata frekuensi transaksi harian tercatat sebanyak 2,75 juta kali transaksi.

Sementara itu, volume transaksi harian pekan ini turun 17,32 persen menjadi 37,11 miliar lembar saham. Pada pekan sebelumnya, volume transaksi harian tercatat sebesar 44,88 miliar lembar saham.

Dalam satu pekan kemarin, terjadi aliran keluar modal asing dari pasar saham, dengan nilai jual bersih sebesar Rp1,49 triliun. Sehingga sepanjang tahun 2026, nilai jual bersih mencapai Rp49,87 triliun.

Perdagangan saham di BEI sepanjang pekan kemarin, dipengaruhi oleh perdagangan saham global. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati akibat sentimen negatif utamanya dari faktor eksternal.

Konflik AS-Iran dan blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut, menyebabkan harga minyak dunia kembali naik. “Tingginya harga minyak yang lebih lama dari perkiraan meningkatkan kecemasan akan inflasi dan pelebaran defisit APBN 2026,” kata Tim Analis Phitraco Sekuritas sebelum libur May Day kemarin.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga terus melemah hingga Rp17.346 per dolar AS. Pekan depan pelaku pasar akan mencermati data ekonomi Indonesia yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik.

Diantaranya data inflasi, neraca perdagangan dan data indeks manufaktur atau Purchasing Managers’ Index (PMI). Termasuk data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk triwulan I 2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....