Ditutup Turun, IHSG Tertekan oleh Kekhawatiran Harga Energi

  • 11 Mar 2026 21:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau lesu sepanjang hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,69 persen atau 51,51 poin ke level 7.389 saat penutupan perdagangan.

Sebanyak 366 saham harganya turun, 312 saham harganya naik, dan 139 saham harganya stagnan. Saham sektor kesehatan naik paling tinggi 0,29 persen, saham sektor bahan baku turun paling dalam -2,03 persen.

“Di dalam negeri, IHSG melemah karena konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu perdagangan energi global. Sehingga dapat memicu lonjakan harga energi,” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Rabu, 11 Maret 2026.

Potensi lonjakan harga energi juga memicu kekhawatiran akan defisit fiskal Indonesia yang melebihi 3 persen. Mengingat Indonesia masih mengimpor migas dan memberikan subsidi BBM.

Hari ini, volume saham yang diperdagangkan di BEI sebanyak 32,20 miliar lembar saham. Sementara itu, frekuensi perdagangan sebanyak 1,84 juta kali transaksi.

Total nilai perdagangan tercatat sebesar Rp15,71 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar mengalami perubahan menjadi Rp13.228 triliun.

Indeks LQ45 yang berisi saham unggulan juga melemah. Saham-saham yang mendominasi penurunan diantaranya AADI, ITMG, BUMI, AMMN, ADMR.

Di kawasan Asia, bursa saham ditutup menguat hari ini seiring harapan harga minyak akan stabil. “Harga minyak turun setelah International Energy Agency mengusulkan peleasan cadangan minyak dalam jumlah besar,” kata Tim Analis Pilarmas.

Disebutkan cadangan minyak yang akan dilepas akan menjadi yang terbesar dalam sejarah. Jumlahnya melampaui 182 juta barel yang pernah dilepas tahun 2022 saat pecah perang Rusia-Ukraina.

“Di sisi lain, konflik militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memasuki hari ke-12 tanpa tanda-tanda penyelesaian. Situasinya berbeda dengan pernyataan Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa konflik akan segera berakhir,” ucap Tim Pilarmas.

Pasar Asia, tambahnya, juga mencermati target pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang diperkirakan lebih rendah tahun ini. Pelaku pasar juga menantikan rilis inflasi AS yang diperkirakan tidak banyak berubah dibandingkan bulan sebelumnya.

Rekomendasi Berita