The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Berisiko Melemah

  • 29 Jan 2026 11:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah turun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis 29 Januari 2026. Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,18 persen menjadi Rp16.752 per dolar AS.

Pada Rabu 28 Januari 2026, rupiah ditutup menguat 0,27 persen menjadi Rp16.722 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS Kamis 29 Januari 2026 berada di level 96,27, turun dibandingkan sehari sebelumnya.

Analis Pasar Uang, Fikri C. Permana, mengatakan rupiah diperkirakan akan bergerak di level Rp16.770 per dolar AS. "Keputusan the Fed mempertahankan suku bunga menjadi sentimen negatif pada rupiah," ujarnya.

Baca juga: IHSG Dibuka Merah, BEI Berlakukan Pembekuan Sementara Perdagangan

Baca juga: The Fed Pertahankan Suku Bunga per Januari 2026

Melalui rapat Federal Open Market Commitee (FOMC) Januari 2026, The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,5-3,75 persen. Tingkat pengangguran dan target inflasi 2 persen disebut menjadi dasar pertimbangan kebijakan tersebut.

"Sentimen risk-off pelaku pasar juga meningkat seirin peningkatan tensi di Timur Tengah," kata Fikri. Terlebih setelah kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, mendekati Iran.

Sementara itu, harga emas dan perak kembali menembus level tertinggi. Hal ini semakin menekan mata uang dolar AS dan berimbas ke nilai tukar rupiah.

Di dalam negeri, sentimen pasar dibayangi ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah keputusan MSCI. Lembaga rating global ini menyoroti masalah transparansi harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menilai kepercayaan pasar valas tetap solid. "Ini didukung pelemahan lanjutan dolar AS yang mendekati level 96," kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.

Di sisi lain, imbal hasil SBN tenor 10 tahun bertahan stabil di 6,37 persen. Sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) berada di level 4,24 persen pascapengumuman The Fed.

"Ini menjaga spread imbal hasil di atas 210 basis poin dan menopang minat investor asing terhadap aset berdenominasi rupiah," ucapnya. Meskipun tingkat Credit Default Swap (CDS) sedikit baik 74 basis poin, tetapi dinilai masih dalam level stabil.

Menurut Rully, hal tersebut menandakan persepsi risiko kedaulatan tetap terjaga. "Secara keseluruhan dalam jangka pendek stabilitas rupiah terjaga," ujarnya.

Hal ini terlihat dari stabilitas imbal hasil obligasi, dukungan dari pelemahan dolar global, dan indikator risiko yang terkendali. "SBN tenor pendek hingga menengah masih menjadi instrumen investasi paling menarik di tengah berlanjutnya ketidakpastian global," kata Rully.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....