Rupiah Makin Loyo Jelang Pengumuman Suku Bunga BI
- 21 Jan 2026 11:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu 21 Januari 2026. Menurut Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,05 persen atau delapan poin menjadi Rp16.964 per dolar AS.
Sementara itu, dolar AS terpantau melemah ke level 98,15. Rupiah diperkirakan masih akan melemah seiring penantian pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).
"Kami memperkirakan BI masih mempertahankan suku bunga pada 4,75 persen," kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto. Perkiraan itu mengacu pada tekanan terhadap rupiah yang kembali meningkat hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah Tipis ke Rp16.956/Dolar AS
Baca juga: Rupiah Masih Melemah, Namun Berpeluang Menguat Terbatas
Menurut dia, jika rupiah tembus Rp17.000 per dolar AS, ini akan menjadi level terlemah di pasar spot sepanjang sejarah. Kondisi tersebut tentunya akan membatasi ruang perubahan suku bunga.
"Penurunan suku bunga berisiko memperdalam depresiasi," ujarnya. Sedangkan kenaikan suku bunga, lanjut dia, dapat menghambat momentum pemulihan ekonomi.
Rully memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga sejalan dengan konsensus pasar. Sepanjang 2025, BI sudah lima kali mengurangi suku bunga sebagai upaya menstabilkan nilai tukar rupiah.
"Sikap itu juga konsisten dengan pandangan kami bahwa The Fed akan menahan suku bunga kebijakan di 3,75 persen bulan ini," ujarnya. Hal ini memperkuat preferensi BI untuk menjaga diferensial suku bunga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Di sisi lain, Rully menilai indikator domestik mulai membaik terutama terkait pertumbuhan kredit. Hingga November 2025, pertumbuhan kredit menunjukkan pemulihan menuju 7,7 persen secara tahunan.
Rully memperkirakan pertumbuhan kredit akan menguat lebih lanjut pada Desember 2025. BI menargetkan pertumbuhan kredit 8–12 persen pada 2026, naik dibandingkan 8–11 persen pada 2025.
Pertumbuhan kredit menjadi indikator akselerasi ekonomi jangka menengah. Meskipun transmisi kebijakan suku bunga terhadap pertumbuhan kredit masih relatif lambat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....