Nilai Tukar Rupiah Makin Lemah ke Rp16.758/Dolar
- 06 Jan 2026 17:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah masih tertekan oleh dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terpantau turun 0,11 persen atau 18 poin menjadi Rp16.758.
Perkembangan di Venezuela masih mempengaruhi pergerakan mata uang dolar AS yang berimbas pada mata uang lainnya. Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela, menggantikan Maduro.
“Tidak jelas apakah Delcy akan menentang intervensi AS. Tapi intelijen AS memandang Delcy sebagai orang yang paling tepat untuk memimpin pemerintahan sementara di Venezuela,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (6/1/2025).
Baca Juga:
Rupiah Belum Stabil, Tapi Berpeluang Menguat Hari Ini
BI Optimis Inflasi Terkendali Tahun 2026-2027
Sementara itu, Presiden Maduro menyatakan dirinya tidak bersalah atas semua tuduhan AS terkait narkotika. Pernyataan itu disampaikannya di pengadilan New York.
Pada saat yang sama, setelah menculik Maduro, Presiden Trump langsung mengundang perusahaan minya besar Amerika untuk berinvestasi di Venezuela. Trump juga menyatakan akan mengendalikan pemerintahan Venezuela.
Dari sisi ekonomi, aktivitas manufaktur Amerika Serikat menunjukkan prospek yang suram. Institute for Supply Management (ISM) merilis indeks Purchasing Managers’ Index Amerika Serikat yang menurun.
“PMI manufaktur AS bulan Desember 2025 turun menjadi 47,9. Angkanya meleset dari perkiraan 48,3 dan turun dari 48,2 pada November 2025,” ucap Ibrahim.
Hal itu menunjukkan penurunan lebih lanjut aktivitas manufaktur di AS, kontraksi sudah terjadi hingga sepuluh bulan berturut-turut. Di sisi lain, Presiden Fed Minneapolis, Neel Kashkari bersikap hawkish, mengatakan bahwa inflasi masih terlalu tinggi.
“Menurut Kashkari, kebijakan moneter sekarang lebih dekat ke posisi netral. Pasar tenaga kerja masih dalam ‘perekrutan rendah dan pemecatan rendah’, sehingga perputarannya masih terbatas,” ujar Ibrahim.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati rilis data inflasi untuk Provinsi Jakarta sebesar 2,63 persen di tahun 2025. Inflasinya masih dalam target sasaran 2,5±1 persen.
“Inflasi tahunan terjadi karena adanya peningkatan harga komoditas dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Juga kenaikan harga kelompok pakaian dan alas kaki, serta kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga,” kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....