AS Kobarkan Konflik, Rupiah Makin Tertekan
- 29 Des 2025 18:42 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga penutupan perdagangan Senin (29/12/2025). Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,25 persen atau 42 poin menjadi Rp16.787 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan dolar AS yang menguat membuat rupiah semakin tertekan. Hal ini disebabkan oleh serangan Washington ke sejumlah negara untuk menguasai hasil minyaknya.
"AS terus melakukan sabotase kapal-kapal tanker pengangkut minyak dari Venezuela ke Tiongkok dan India," ujarnya. Tujuannya untuk melemahkan perekonomian negara di Amerika Selatan itu.
AS berharap rakyat Venezuela akan marah jika perekonomian ambruk dan meminta Presiden Nicolás Maduro mundur. Sehingga ini akan memudahkan AS mengendalikan dan menguasai produksi minyak negara tersebut.
Baca juga: Pasar "Wait and See", Rupiah Berisiko Melemah
Cara serupa dilakukan Gedung Putih di Nigeria dengan menggunakan sentimen agama. AS menyerang lewat udara kepada satu kelompok di negara Afrika Barat itu yang dituduh telah menindas kaum Kristiani.
Padahal, serangan AS dikarenakan kelompok yang disebut milisi itu menguasai sejumlah kilang minyak di Nigeria. Sehingga hal itu menghambat kepentingan AS untuk menguasai produksi minyak di negara tersebut.
Konflik yang dikorbarkan AS di Venezuela dan Nigeria membuat harga minyak mentah meroket. "Kenaikan harga minyak berimbas pada mata uang dolar AS yang makin menguat," ucap Ibrahim.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati kebijakan suku bunga bank sentral AS The Fed pada tahun depan. "Kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga pada Januari 2026 masih sebatas wacana," ujar Ibrahim.
Menurut dia, saat ini jumlah lapangan kerja di AS berkurang dan tingkat pengangguran meningkat. Ditambah laju inflasi di bawah tiga persen, ini semua mengindikasikan The Fed akan menurunkan suku bunga.
"Namun, ini baru wacana karena investor juga fokus pada konflik geopolitik," kata Ibrahim. Sementara itu dari dalam negeri, bencana di Pulau Sumatra diperkirakan bakal menyebabkan pertumbuhan ekonomi tahun ini stagnan.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 kemungkinan lebih rendah dibandingkan ekspektasi pemerintah yang di atas 5 persen. Bahkan diperkirakan pertumbuhannya berada di bawah 5 persen.
"Ini membuat pasar sedikit apatis terhadap prediksi pertumbuhan ekonomi 5 persen pada 2025," ujar Ibrahim. Imbasnya, menurut dia, akan terjadi aliran keluar modal asing yang membuat rupiah makin terpuruk.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....