Rupiah Makin Lemah karena Pengaruh Ketegangan Geopolitik

  • 23 Des 2025 20:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah tidak mampu mempertahankan penguatannya terhadap dolar AS, karena rupiah melemah saat penutupan perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,06 persen atau 10 poin menjadi Rp16.787 per dolar AS.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, meningkatnya ketegangan AS dan Venezuela masih mempengaruhi pergerakan mata uang dolar AS. “Presiden Trump terus melancarkan retorika terhadap pemimpinan Venezuela, Nicolas Maduro,” ujarnya, Selasa (23/12/2025).

Trump memperingatkan potensi serangan angkatan laut AS ke Venezuela. AS juga mengancam akan menahan minyak dari kapal tanker Tiongkok yang disita di lepas pantai Venezuela.

Baca Juga:

Tekanan Dolar Melemah, Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini

IHSG Bergerak Fluktuatif dengan Kecenderungan Menguat

“Ketegangan Iran-Israel juga kembali mencuat karena kecurigaan Israel terhadap Iran. Terutama mengenai fasilitas pengayaan nuklir Iran dan kecurigaan Israel bahwa Iran sudah melakukan latihan militer skala besar,” ucap Ibrahim.

Selain itu, pelaku pasar sedang mengantisipasi pelonggaran moneter lebih lanjut oleh the Fed di tahun 2026. Data terbaru menunjukkan tekanan inflasi yang mereda dibarengi pasar tenaga kerja AS yang melemah.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati melambatnya pertumbuhan kredit di tahun ini. BI bahkan menyebutkan jumlah pinjaman yang belum tersalurkan (undisbursed loan) di perbankan mencapai Rp2.500 triliun per November 2025.

Menurut Bank Indonesia, korporasi masih ‘wait and see’ karena masih tingginya situasi ketidakpastian. Bahkan rumah tangga pun masih menahan diri untuk mengambil kredit konsumsi.

“Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat undisbursed loan yang tinggi, menunjukkan masih adanya kelonggaran tarik kredit di masa depan. Ini dapat dimanfaatkan oleh debitur dalam melakukan ekspansi usaha,” ujar Ibrahim.

Dari sisi perbankan, artinya masih memiliki ruang untuk mendukung pembiayaan produktif. Asalkan disertai dengan pendekatan yang cermat terhadap risiko dan arah kebijakan ekonomi ke depan.

“Pemulihan beberapa sektor ekonomi serta dukungan optimal dari kebijakan fiskal dan moneter akan berdampak ke perekonomian. Karena ada efek multiplier ke konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha,” kata Ibrahim menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....