Tekanan Berkurang, Rupiah Ditutup Naik 42 Poin
- 25 Nov 2025 19:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (25/11/2025). Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,25 persen atau 42 poin menjadi Rp16.656 per dolar AS.
Penguatan rupiah seiring semakin menguatnya keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember 2025. "Data-data ekonomi AS dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang dovish (lunak) memperkuat keyakinan itu," kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.
Baca juga: Rupiah Berisiko Melemah Dipengaruhi Ekspektasi Suku Bunga Fed
Gubernur The Fed, Christopher Waller, mendukung penurunan suku bunga pada Desember 2025. Presiden The Fed New York, John Williams, sebelumnya juga mengatakan penurunan suku bunga di bulan tersebut dimungkinkan.
"Ini karena pasar tenaga kerja yang melemah," kata Ibrahim. Sehingga, peluang pemangkasan suku bunga The Fed hampir 80 persen, naik dari sebelumnya 30 persen berdasarkan CME FedWatch.
Saat ini pelaku pasar menanti data-data ekonomi AS terbaru guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang kebijakan moneter. Indeks harga produsen di AS diperkirakan menunjukkan peningkatan sebesar 0,3 persen secara bulanan pada September 2025.
Sementara itu, penjualan ritel diproyeksikan meningkat 0,4 persen secara bulanan pada periode yang sama. Kedua indikator ekonomi tersebut akan menjadi pertimbangan kebijakan moneter The Fed.
Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati harapan Presiden Prabowo Subianto terhadap pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Kepala negara ingin APBN 2027 atau 2028 tidak lagi defisit," ucap Ibrahim.
Sehingga pendapatan dan belanja negara menjadi seimbang, atau pendapatan lebih besar daripada belanja. Namun, dalam nota keuangan pemerintah disebutkan target defisit APBN 2026 sebesar 2,48 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Alih-alih turun, Kementerian Keuangan pada September 2025 mengerek target defisit tahun depan dari semula 2,48 persen menjadi 2,68 persen. Kenaikan itu disetujui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) lewat pengesahan Undang-Undang APBN 2026.
Menurut Ibrahim, kenaikan defisit anggaran ini karena pemerintah akan serius menjalankan program-program prioritasnya. Di antaranya Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....