Rupiah Anjlok, Imbas Sikap 'Hawkish' the Fed
- 20 Nov 2025 11:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali anjlok terhadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (20/11/2025). Padahal, Rabu kemarin, rupiah berhasil menguat ke posisi Rp16.708 per dolar AS setelah pengumuman BI Rate.
Data Bloomberg menunjukkan, hari ini, nilai tukar rupiah dibuka turun 0,16 persen atau 26 poin. Sehingga nilai rupiah menjadi Rp16.734 per dolar AS.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang menguat," kata Analis Pasar Uang, Lukman Leong, Kamis (20/11/2025). Hari ini indeks dolar AS terpantau naik ke level 100,24.
Baca Juga: BI Masih Pertahankan Suku Bunga 4,75 Persen
Baca Juga: BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Berbalik Menguat
Indeks dolar AS menguat didorong oleh sikap hawkish (ketat) the Fed dalam risalah pertemuan semalam. Meski ada perbedaan pendapat di kalangan pejabat the Fed, namun bank sentral AS itu memberi sinyal kehati-hatian.
The Fed masih melihat adanya berbagai risiko jika melakukan pemangkasan suku bunga bulan Desember. Terutama risiko kenaikan inflasi yang berpotensi membuat upaya mencapai target inflasi 2 persen semakin jauh.
Melihat nilai tukar rupiah yang terus menurun, Lukman memperkirakan BI akan melakukan intervensi pasar. "Intervensi dilakukan menyusul langkah BI mempertahankan suku bunga atau BI Rate bulan November ini," ucap Lukman.
Lukman memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp16.650-16.750 per dolar AS. Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa fokus BI dalan jangka pendek adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Untuk menjaga nilai tukar rupiah di tengah besarnya tekanan dari ketidakpastian global, BI menempuh langkah stabilisasi. Yakni melalui intervensi di pasar spot dan pasar NDF baik off-shore maupun on-shore (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder," kata Perry dalam keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (19/11/2025).
Selain itu, tambah Perry, peningkatan konversi valas ke rupiah oleh eksportir juga akan mendukung penguatan rupiah. Hal ini sejalan dengan penerapan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
"Tambahan pasokan valas dari korporasi juga mendukung tetap terkendalinya nilai tukar rupiah," ujar Perry. Dia optimis nilai tukar rupiah akan stabil didukung imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan prospek ekonomi yang membaik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....