KSSK: Sistem Keuangan Stabil, Waspadai Risiko Global

  • 04 Nov 2025 08:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Stabilitas sistem keuangan sepanjang triwulan III-2025 terjaga dan mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi. Namun tetap harus waspada menghadapi berbagai risiko global yang bisa menimbulkan dampak rambatan ke dalam negeri.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hal tersebut dalam keterangan pers hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). "Perekonomian dunia masih menghadapi tantangan akibat dampak tarif impor yang diberlakukan Amerika Serikat," kata Purbaya yang juga Ketua KSSK di gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/11/2025).

Baca juga:

Penutupan Perdagangan, IHSG Tembus Rekor Baru

Inflasi Oktober 0,28 Persen, Dipicu Harga Emas Perhiasan

Menurutnya, ketidakpastian global masih tinggi di tengah meningkatnya harapan akan perekonomian yang lebih baik ke depan. "Karenanya KSSK akan mengantisipasi potensi risiko yang dapat menimbulkan dampak rambatan ke perekonomian dan sektor keuangan di dalam negeri," ucap Purbaya.

Kewaspadaan dan antisipasi dilakukan dengan respon kebijakan yang efektif untuk memastikan sistem keuangan tetap stabil. Pada saat yang sama, juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Purbaya menyebutkan, pertumbuhan ekonomi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, masih melemah. Begitu pula Eropa, Jepang, Tiongkok dan India pertumbuhan ekonominya belum kuat.

"Pelemahan pertumbuhan ekonomi antara lain dipengaruhi oleh lemahnya konsumsi rumah tangga. Meskipun berbagai stimulus telah diberikan," ujar Menkeu lagi.

Pemerintah Indonesia mendorong realisasi belanja APBN untuk mendorong aktivitas konsumsi dan produksi. Antara lain dengan percepatan implementasi proyek-proyek strategis, serta pemberian stimulus maupun insentif bagi sektor yang menjadi prioritas.

"Penempatan uang kas pemerintah sebesar 200 triliun ikut meningkatkan likuiditas perekonomian," kata Purbaya lagi. Pemerintah juga akan mendorong investasi swasta melalui peran Danantara, disamping menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan ketahanan eksternal masih terjaga. Di tengah ketidakpastian global, nilai tukar rupiah fluktuatif tapi masih terkendali.

"Pada akhir triwulan III rupiah sempat melemah sebesar 1,05 persen point to point (ptp). Namun rupiah kembali menguat sebesar 0,21 persen ptp pada Oktober ditopang oleh kebijakan stabilisasi yang dilakukan BI," ujar Perry.

Ketahanan eksternal juga didukung oleh posisi cadangan devisa hingga akhir September sebesar USD148,7 miliar. Jumlah itu setara dengan pembiayaan enam bulan impor dan masih di atas standar kecukupan internasional.

"BI terus memperkuat bauran kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. BI akan terus mencermati efektivitas pemangkasan suku bunga pada aktivitas perekonomian dan stabilitas nilai tukar rupiah," ucap Perry.

Hasil Rapat KSSK juga menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi dan kordinasi dalam membuat respon kebijakan menghadapi dinamika global. Dukungan terhadap sektor riil juga menjadi prioritas untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....