Pemerintahan AS ‘Shutdown’, Rupiah Berbalik Menguat

  • 01 Okt 2025 19:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali menguat dalam penutupan perdagangan hari ini, Rabu (1/10/2025). Dari data Bloomberg, rupiah terpantau naik 0,18 persen atau 30 poin menjadi Rp16.634 per dolar AS.

Perkembangan di Amerika Serikat membuat dolar AS tertekan dan menjadi peluang penguatan rupiah. “Pemerintah Presiden Donald Trump resmi ‘shutdown’ setelah Kongres gagal meloloskan Rancangan Undang-Undang Keuangan,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu (1/10/2025).

Dengan demikian pemerintahan di AS terhenti dan ‘shutdown’ kali ini menjadi yang pertama sejak tahun 2018. Para pekerja pemerintahan yang dianggap esensial tetap bekerja, tapi yang tidak esensial dirumahkan tanpa dibayar.

Lumpuhnya pemerintahan AS menyebabkan rilis sejumlah data ekonomi ditunda, salah satunya data penggajian pekerja non-pertanian. Padahal data tersebut penting bagi bank sentral AS dalam menentukan suku bunga kebijakannya.

Baca Juga:

Rupiah Kembali Melemah Turun 0,06 Persen

IHSG Dibuka ‘Rebound’ Ke Level 8.069

Di sisi lalin, muncul keraguan atas penurunan suku bunga lebih lanjut oleh the Fed. Sejumlah pejabat the Fed melontarkan komentar ‘hawkish’ (ketat) mengenai pemangkasan suku bunga. 

Presiden Fed Dallas, Lorie Logan misalnya, menandai peningkatan kewaspadaan atas pemangkasan suku bunga di masa datang. “Dia mengatakan, pasar tenaga kerja perlu memburuk lebih lanjut agar bank sentral mempertimbangkan lebih banyak pemotongan suku bunga,” ucap Ibrahim.

Pelaku pasar juga mencermari rilis data ekonomi Badan Pusat Statistik hari ini. Data neraca perdagangan  Agustus 2025, membukukan surplus USD5,49 miliar, sedangkan secara tahunan surplus USD29,14 miliar. 

“Secara bulanan neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 64 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus ditopang oleh perdagangan non-migas yang surplus sebesar USD7,15 miliar,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS), M. Habibullah.

Selain itu, pada September 2025 perekonomian mengalami inflasi 0,21 persen secara bulanan, dan 2,65 persen secara tahunan.  “Sebelumnya pada Agustus 2025, terjadi deflasi sebesar 0,08 persen,”  ujar Habibbullah.

Aktivitas manufaktur Indonesia, juga kembali melambat pada September 2025. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia berdasarkan versi S&P Global tercatat 50,4, turun dari 51,5 di bulan Agustus.

Penurunan PMI manufaktur Indonesia ini dipengaruhi oleh melemahnya output produksi, yang pertama kalinya turun dalam tiga bulan terakhir. Tetapi permintaan baru masih bertahan positif sehingga memberi sedikit dorongan pada aktivitas industri.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....