IHSG Diperkirakan ‘Reboud’ Dipengaruhi Perubahan Indeks MSCI
- 27 Agt 2025 10:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini diperkirakan akan berbalik menguat. Setelah dalam penutupan perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun 0,27 persen atau 21 poin ke level 7.905.
Meski turun, masih terjadi beli bersih saham oleh investor asing sebesar Rp1,77 triliun. Saham-saham yang paling banyak dibeli asing adalah AMMN, CUAN, AADI, BBRI dan DSSA.
“IHSG berpotensi rebound (berbalik menguat) hari ini, setelah rebalancing MSCI pada Selasa kemarin. Di level support IHSG diperkirakan bergerak di rentang 7.850-7.880, dan di level resistansi di rentang 7.940-7980,” kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman dalam analisisnya Rabu (27/8/2025).
Rebalancing di MSCI terjadi dengan masuknya sejumlah saham ke indeks MSCI dan ada saham yang dikeluarkan dari indeks. Dua saham Indonesia yang masuk ke indeks utama MSCI Global Standard adalah DSSA (perusahaan energi) dan CUAN (perusahaan pertambangan)
Sedangkan saham Indonesia yang keluar dari indeks MSCI Global Standard adalah ADRO (perusahaan energi). MSCI juga melakukan evaluasi terhadap saham-saham berkapitalisasi kecil (Small Cap).
Baca Juga: IHSG Ditutup Turun ke Level 7.905
Saham-saham Indonesia yang masuk dalam MSCI Small Cap adalah AADI, ADRO, KPIG, PTRO, RATU, TAPG. Sedangkan saham yang dikeluarkan adalah saham MBMA dan PNLF.
Indeks MSCI merupakan indeks saham global yang menjadi acuan investor internasional. Saham yang masuk dalam indeks MSCI biasanya akan mengalami peningkatan permintaan.
Baca Juga: Transaksi di Jepang Sudah Bisa Gunakan QRIS
Pada Selasa kemarin, indeks saham di Amerika Serikat ditutup menguat, sedangkan bursa saham Asia ditutup melemah. Sejumlah isu yang begulir mempengaruhi sentimen pasar.
Pernyataan Trump yang akan mencopot Gubernur The Fed, Lisa Cook membuat pasar khawatir akan independensi bank sentral. Di sisi lain, pasar berekspektasi akan pemangkasan suku bunga The Fed dalam pertemuan bulan September mendatang.
“Ekspektasi didorong oleh sinyal dovish (melunak) ketua The Fed Jerome Powell meski inflasi masih tinggi. Data pasar tenaga kerja juga menunjukkan pelemahan, serta adanya perombakan di bank sentral AS,” ujar Fanny.
Kondisi itu juga mempengaruhi sentimen pasar di bursa saham Asia. Selain peristiwa lainnya, seperti pertemuan Presiden Korea Selatan dan Presiden AS yang membahas kerangka keja kesepakatan tarif perdagangan.
“Serta ancaman baru Presiden Trump terhadap Tiongkok dengan tarif 200 persen. Trump melontarkan ancaman itu jika Tiongkok tidak mengekspor magnet tanah jarang ke AS,” kata Fanny menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....