Tekanan Eksternal Kuat, Rupiah Ditutup Melemah
- 26 Agt 2025 17:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (26/8/2025). Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,24 persen atau 39 poin menjadi Rp16.298 per dolar AS.
Menurut analis asar uang, Ibrahim Assuaibi, konflik Ukraina-Rusia masih menjadi pendorong utama sentimen pasar. Terutama terkait sikap Presiden AS, Donald Trump, yang memposisikan dirinya sebagai mediator tetapi terus melontarkan ancaman pada Rusia.
"Trump mengancam akan mengenakan sanksi pada Moskow jika tidak tercapai kesepakatan damai dalam dua minggu dengan Ukraina," ujarnya. Di sisi lain, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan Rusia telah membuat "konsesi signifikan" termasuk jaminan keamanan untuk Ukraina.
Baca juga: Rupiah Berisiko Melemah Hari Ini oleh Faktor Eksternal
Trump juga mengusulkan pertemuan trilateral dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun dia belum menyebutkan kapan pertemuan akan dilakukan.
Dari sisi moneter, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed. "Pasar mulai menyadari bahwa peluang pemotongan suku bunga belum sepenuhnya pasti," ucap Ibrahim.
Pada pekan ini AS akan merilis sejumlah data ekonomi seperti Belanja Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE). Kemudian pada pekan depan akan dirilis data tenaga kerja nonpertanian (NFP) dan tingkat inflasi.
"Data-data ekonomi tersebut akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed," ujar Ibrahim. Menurut dia, situasi tersebut mendorong pelaku pasar memainkan aksi lindung nilai (hegding), yang membuat dolar AS menguat.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati perkiraan Bank Indonesia (BI) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa menyentuh 5,1 persen sepanjang 2025, bahkan berpotensi lebih tinggi.
"Membaiknya pertumbuhan ekonomi didukung sejumlah faktor seperti kinerja ekspor yang terus membaik," ujarnya. Kemudian belanja pemerintah juga akan makin ekspansif dan invetasi semakin bertambah.
Sektor transportasi, pergudangan, industri alat pertanian, dan investasi di sejumlah proyek strategis akan menjadi pendorong pertumbuhan. "Selain itu juga menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar uang," kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....