Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Turun 25 Poin
- 25 Jul 2025 17:59 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan sore ini, Jumat (25/7/2025). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,15 persen atau 25 poin menjadi Rp16.320 per dolar AS.
Sejumlah faktor eksternal mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah hari ini. Di antaranya laporan media yang menyebutkan bahwa perjanjian perdagangan utama antara Uni Eropa dan AS hampir selesai.
"Tarif 15 persen untuk sebagian besar ekspor dari Uni Eropa yang sebelumnya dikenakan 30 persen. Di India, Menteri Perdagangan Piyush Goyal juga optimis mencapai kesepakatan dengan AS untuk menghindari ancaman tarif sebesar 26 persen," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat (25/7/2025).
Baca Juga:
Hari Ini, Dolar 'Rebound' Rupiah Dibuka Melemah
IHSG Bergerak Fluktuatif, Diperkirakan Terkoreksi Hari Ini
Hal tersebut memperkuat sentimen bahwa negara-negara lain juga dapat mencapai kesepakatan yang menguntungkan. Sebelum batas waktu yang ditentukan pada 1 Agustus 2025.
Pelaku pasar juga mencermati kunjungan Presiden Trump ke kantor pusat The Fed. Pasar mengkhawatirkan independensi The Fed karena kunjungan Trump tersebut.
"Fokus pasar hari ini adalah data Pesanan Barang Tahan Lama AS yang akan dirilis Jumat malam nanti. Termasuk keputusan kebijakan moneter The Fed pekan depan, yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga.
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati pemerintah yang masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mampu menembus target 5,2 persen. Seiring kondisi pasar yang lebih kondusif pada semester II-2025, meski tantangan masih ada dari global maupun domestik.
"Realisasi beberapa kesepakatan dagang dan sinyal positif lainnya, diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonom 5,2 persen. Selain itu, akselerasi penyerapan belanja APBN melalui komponen konsumsi pemerintah juga dapat menopang pertumbuhan ekonomi," ucap Ibrahim.
Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi juga berpotensi bangkit. Terlihat dari lonjakan impor barang modal pada April dan Mei yang signifikan ketimbang tiga bulan pertama tahun 2025.
Untuk menjaga momentum akselerasi, pemerintah akan mengoptimalkan strategi jangka pendek, seperti mendorong belanja, memperkuat sektor industri pengolahan dan padat karya. Serta mendorong program subsidi kredit perumahan, menggenjot konsumsi dari sektor pangan serta optimalisasi sektor pariwisata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....