Penutupan Perdagangan, IHSG Melesat ke Level 7.530

  • 24 Jul 2025 20:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus meningkat dalam penutupan perdagangan pada Kamis (24/7/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali naik 0,83 persen (61,67 poin) ke level 7.530,90.

Meskipun demikian, sebanyak 324 saham mengalami penurunan, 310 saham stagnan, dan hanya 322 saham yang mengalami kenaikan harga. Saham sektor energi turun paling dalam (-0,75 persen) dan saham sektor finansial naik paling tinggi (3,03 persen).

“Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan bergerak menguat didominasi saham ESSA, ARTO, BRIS, BBRI, BBNI,” kata Tim Pilarmas Investindo Sekuritas, Kamis. Indeks LQ45 yang menguat menopang kenaikan IHSG.

Baca Juga:

Isu Tarif dan APBN Sebabkan Rupiah Naik Tipis

Analis Perkirakan Rupiah Kembali Menguat Hari ini

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 25,63 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 1.638.000 kali transaksi. Total nilai perdagangan mencapai Rp16,4 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp13.485 triliun.

Bursa saham Asia juga mayoritas menguat dalam penutupan perdagangan hari ini. Pelaku optimis AS akan mengejar kesepakatan tarif dengan negara lainnya, setelah mencapai kesepakatan dengan sejumlah negara termasuk Jepang.

Namun, Tim Pilarmas menyebut momentum penguatan indeks saham akan dibatasi oleh meningkatnya ketegangan menjelang pertemuan The Fed. Karena dalam pertemuan tersebut, The Fed akan menentukan kebijakan suku bunganya.

“Pada hari yang sama, Presiden Trump juga dijadwalkan mengunjungi Bank Sentral AS itu,” ucap Tim Pilarmas. Namun, sikap Trump berlawanan dengan The Fed yang tidak juga menurunkan suku bunga.

Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Ini akan mengakhiri siklus pelonggaran moneter, setelah sebelumnya ECB telah delapan kali menurunkan suku bunganya.

“Para pembuat kebijakan diperkirakan akan mengambil pendekatan ‘wait and see’ sambil mengevaluasi dampak ketidakpastian perdagangan yang berkelanjutan, serta potensi dampak tarif dari AS terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi,” kata Tim Pilarmas menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....