Akhir Pekan, Rupiah Makin Perkasa terhadap Dolar AS
- 02 Mei 2025 18:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan Jumat (2/5/2025) sore. Data Bloomberg menunjukkan rupiah naik signifikan 0,84 persen atau 139 poin menjadi Rp16.437 per dolar AS.
“Penguatan rupiah ini luar biasa dan di luar dugaan. Kemungkinan besar dalam perdagangan minggu depan, rupiah akan menguat di kisaran Rp16.340-16.044 per dolar AS,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat.
Baca Juga:
Sinyal Positif, Rupiah Kembali Naik ke Level Rp16.490/Dolar
Tarif Listrik Normal Lagi, April Inflasi 1,17 Persen
Menurutnya, nilai tukar rupiah bisa mendekati Rp16.000 per dolar AS pada bulan Mei ini. “(Ini bisa terjadi-red) kalau konsolidasi antara pemerintah dan Bank Indonesia terus dilakukan untuk melakukan strategi bauran ekonomi,” ucap Ibrahim.
Rupiah menguat sejak hari Rabu hingga Jumat ini, karena Bank Indonesia terus melakukan ‘triple intervensi’. Upaya yang dilakukan BI tersebut yakni melakukan intervensi di pasar repo, valas, dan obligasi.
Intervensi, tambah Ibrahim, dilakukan BI di pasar domestik maupun pasar luar negeri, utamanya di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. “Inilah yang membuat rupiah digdaya meskipun indeks dolar AS sebenarnya masih cukup kuat di kisaran 99,” ujarnya.
Penguatan nilai tukar rupiah, sambung Ibrahim, menunjukkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat. Sentimen pasar juga positif menyusul pernyataan Presiden Prabowo akan menghapus tenaga kerja outsourcing saat Peringatan Hari Buruh kemarin.
Kepala negara juga menyatakan akan mengesahkan Undang-Undang Perampasan Aset. Dalam pertemuan Danantara, Presiden mengisyaratkan perubahan manajemen BUMN yang tidak sesuai dengan visi misi pemerintah.
“Di sisi lain, Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia meningkat di bulan April setelah menurun tiga bulan sebelumnya. Inflasi juga naik salah satunya karena banyaknya masyarakat yang membeli logam mulia,” ujar Ibrahim.
Dari sisi ekternal, sentimen pasar masih dipengaruhi harapan akan adanya perdamaian perang dagang antara AS-Tiongkok. Meskipun demikian, kabar pemerintah AS sedang bernegosiasi dengan Tiongkok masih sebatas wacana.
“Tiongkok masih belum memberikan kepastian atas keinginan Pemerintah Trump melakukan negosiasi. Tiongkok menginginkan AS bernegosiasi dengan hati yang bersih, bukan hanya karena masalah Boeing,” kata Ibrahim menutup analisisnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....