Bursa Asia Naik, IHSG Ikut Terangkat ke 6.725

  • 30 Apr 2025 20:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau dalam perdagangan Rabu (30/4/2025). Namun, di awal perdagangan, IHSG sempat berada di zona merah dengan level terendah 6.725.

Di akhir perdagangan IHSG berada di level 6.766, mengalami kenaikan 0,26 persen (17 poin). Sebanyak 335 saham harganya turun, 327 saham harganya naik dan 297 saham harganya tidak berubah (stagnan).

“Saham sektor kesehatan naik paling tinggi sebesar 2,48 persen. Sedangkan saham sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar -1,50 persen,” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam analisisnya, Rabu (30/4/2024).

Baca Juga:

Dolar AS Tertekan, Rupiah Melesat ke Level Rp16.603

Maret 2025, APBN Defisit Rp104,2 Triliun

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 24,19 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan 1.293.000 kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp14,47 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp11.705 triliun.

Menurut Tim Pilarmas, kenaikan IHSG saat penutupan perdagangan, ditopang faktor eksternal maupun internal. “Faktor eksternal berasal dari pergerakan bursa Asia yang menguat,” ucap Tim Pilarmas

Pelaku pasar mencermati langkah Tiongkok yang diam-diam membuat daftar produk AS yang akan dikecualikan dalam pengenaan tarif. Produk-produk tersebut di antaranya adalah obat-obatan tertentu, microchip, dan mesin pesawat terbang asal AS.

Pasar Asia juga sedang menunggu keputusan kebijaka suku bunga Bank of Japan. Pelaku pasar berharap Bank Sentral Jepang itu tetap mempertahankan tingkat suku bunga 0,5 persen.

“Para pembuat kebijakan di Jepang diminta bersikap hati-hati. Utamanya dalam mengevaluasi dampak dari pengenaan tarif AS pada ekonomi Jepang,” ujar Tim Pilarmas.

Dari dalam negeri, Tim Pilarmas mencermati realisasi pendapatan yang meningkat tajam di bulan Maret 2025. Pada Februari pendapatan negara hanya mencapai Rp316,9 triliun, pada Maret melonjak sebesar Rp516,1 trilun.

Kenaikannya dalam satu bulan mencapai 200 juta. Pencapaian ini akan menopang stabilitas fiskal, kepercayaan pasar, defisit anggaran, dan dampak sosial.

“Namun demikan pencapaian yang positif tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan yang berkelanjutan. Sehingga dapat dipastikan bahwa pertumbuhan akan stabil dan inklusif di tengah ketidakpastian akibat perang dagang,” kata Tim Pilarmas menutup analisinya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....