Rupiah Gagal Tahan Tekanan Dolar AS

  • 18 Mar 2025 16:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah gagal membendung tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (18/3/2025) sore. Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,13 persen atau 22 poin ke level Rp16.428 per dolar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan ketegangan di Timur Tengah mempengaruhi sentimen di pasar uang. Apalagi setelah Israel kembali melakukan serangan brutal ke Jalur Gaza usai kegagalan pembicaraan mengenai kelanjutan gencatan senjata.

"Serangan Israel menewaskan lebih dari 200 warga Gaza, termasuk pejabat senior Hamas," ujarnya. Menurut Ibrahim, hal ini menandai ketegangan baru antara Israel dan kelompok pejuang Palestina yaitu Hamas.

Baca juga: Rupiah Berpeluang Menguat, Meski Dibuka Melemah

Pasar juga masih diwarnai kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Kanada, Meksiko, Tiongkok, dan negara-negara Eropa menyatakan siap membalas dengan tarif impor lebih tinggi untuk komoditas-komoditas asal Washington.

Pada saat bersamaan, pasar menunggu hasil pertemuan The Fed pekan ini yang diperkirakan akan menahan suku bunga. Pertemuan bank sentral lain seperti Bank of Japan dan Bank of England juga akan berlangsung minggu ini.

Dari dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi laporan realisasi APBN yang hingga Februari 2025 mengalami defisit. "Defisit tersebut menunjukkan pelemahan fiskal yang harus diantisipasi," ucap Ibrahim.

Selama dua bulan pertama tahun ini, APBN mencatatkan defisit fiskal sebesar Rp31,2 triliun atau 0,13 persen terhadap PDB. Defisit tersebut juga disertai penurunan penerimaan pajak sebesar 30,19 persen secara tahunan.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menjadi tanda bahaya bagi keberlanjutan kebijakan ekonomi pemerintah. Jika tidak ada langkah korektif yang tegas, bukan tidak mungkin defisit bisa melebar hingga melebihi batas aman di akhir tahun.

Anjloknya penerimaan pajak bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi yang lesu. Namun lebih banyak berkaitan dengan kendala pada implementasi Coretax yang menghambat pemungutan pajak dari sektor-sektor utama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....