Pelaku Pasar Harap BI Segera Turunkan Suku Bunga

  • 13 Mar 2025 15:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Pelaku pasar menilai sudah saatnya Bank Indonesia (BI) menurunkan kembali suku bunga acuannya. Sehingga perekonomian termasuk pasar modal Indonesia bisa lebih bergairah lagi.

Demikian dikatakan Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, Rabu (12/3/2025). "Bulan Maret adalah kesempatan baik dan momen yang tepat bagi BI untuk menurunkan kembali suku bunganya," ujarnya.

Menurut Rully, jika ditunda hingga kuartal ketiga, itu terlalu lama. "Ruang penurunannya pun akan lebih sempit," ujarnya pada Media Day “Understanding Economics and Market Challenges” di Jakarta.

Rully menyatakan kondisi saat ini cukup mendukung bagi penurunan suku bunga BI. Ini karena fundamental ekonomi yang masih kuat dan inflasi juga masih terkendali.

Sedangkan pada kuartal kedua biasanya merupakan musim dividen bursa, di mana terjadi peningkatan permintaan dolar. "Sehingga pada periode itu jarang terjadi kenaikan suku bunga BI," ucapnya.

Menurut Rully, terlalu lama menunda penurunan suku bunga hingga kuartal ketiga justru akan berdampak negatif pada perekonomian. "Dampaknya pertumbuhan ekonomi 2025 kemungkinan bisa lebih rendah dari target 5,2 persen," ujarnya.

Pemangkasan suku bunga juga akan menjadi sentimen positif bagi pasar modal Indonesia. Ini dapat mendongkrak kinerjanya yang belakangan ini turun cukup signifikan.

Rully menambahkan kinerja pasar modal saat ini bisa dibilang terburuk karena aliran keluar modal asing masih cukup deras. Terutama akibat penjualan saham-saham perbankan.

Selain itu, Goldman Sachs menurunkan peringkat aset keuangan Indonesia dari overweight menjadi market weight. Sedangkan defisit APBN Indonesia 2025 diprediksi naik dari 2,5 persen menjadi 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih sulit diprediksi karena tidak ada pendorong optimisme market. "Karena itu, pemangkasan suku bunga BI dan kebijakan yang lebih agresif masih diperlukan untuk mendorong penguatan pasar," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....