Terseret Pelemahan Bursa Asia, IHSG Ikut Tergelincir

  • 10 Mar 2025 19:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Perdagangan saham yang lesu membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah Senin (10/3/2025) sore. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 0,57 persen atau 37,79 poin ke level 6.598.

Harga 386 saham mengalami penurunan, sementara 324 saham stagnan dan 247 saham naik. Saham sektor bahan baku, finansial, dan kesehatan menjadi penekan IHSG karena turun paling rendah.

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 18,64 miliar lembar dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,11 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan sebesar Rp9,45 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp11.397 triliun.

Penurunan IHSG seiring pelemahan mayoritas bursa saham Asia pada penutupan perdagangan Senin (10/3/2025). Tim Analis Phillip Sekuritas Indonesia menyebutkan sejumlah faktor yang memicu pelemahan.

Di antaranya runtuhnya keyakinan atas ketahanan ekonomi Amerika Serikat dan semakin kuatnya kekhawatiran atas eskalasi perang dagang global. "Ini ditambah tekanan deflasi masih berlanjut di Tiongkok," kata Tim Phillip Sekuritas.

Inflasi konsumen menurun selama 13 bulan hingga Februari 2025. Sedangkan di level produsen terjadi deflasi selama 30 bulan berturut-turut.

Sementara imbal hasil surat utang Pemerintah Tiongkok tenor 10 tahun naik ke level tertinggi menjadi 1,86 persen. Kenaikan didorong optimisme terhadap prospek perekonomian Tiongkok setelah menetapkan target pertumbuhan 5 persen pada 2025.

Di Jepang, imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun juga naik menjadi 1,57 persen, tertinggi sejak 2008. Para pejabat Bank of Japan dikabarkan cenderung akan mempertahankan suku bunga.

Dari sisi ekonomi makro, upah nominal di Jepang hanya naik 2,8 persen pada Januari. "Ini di bawah ekspektasi pasar sebesar 4,4 persen," ucap Tim Phillip Sekuritas.

Sedangkan upah riil yang mencerminkan daya beli konsumen turun 1,8 persen secara tahunan disebabkan inflasi yang tinggi. Perkembangan ekonomi di Jepang dan Tiongkok inilah yang mempengaruhi sentimen para investor di Asia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....