Rupiah Berbalik Melemah Akibat Ketidakpastian Kebijakan Tarif Trump

  • 06 Mar 2025 17:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berbalik melemah dalam penutupan perdagangan sore ini. Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (6/3/2025), rupiah turun 0,17 persen (27 poin) menjadi Rp16.339 per dolar AS.

Pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan tarif Trump. Setelah Rabu kemarin, Gedung Putih mengumumkan pengecualian tarif baru 25 persen untuk impor kendaraan dari Meksiko dan Kanada.

"Pengecualian diberlakukan selama sebulan penuh. Namun sentimen masih tetap rapuh karena Trump tidak membuat pengecualian tarif 20 persen terhadap Tiongkok," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis (6/3/2025).

Baca Juga:

Rupiah Berpeluang Terus Menguat terhadap Dolar AS

IHSG Berpeluang Naik, Jika Aksi Beli Saham Berlanjut

Ekspor Barang Perhiasan Indonesia Capai USD5,5 Miliar

Hal itu membuat Beijing marah, dan akhirnya memberlakukan aksi balasan terhadap AS. Trump juga disebut bisa saja menghapus tarif 10 persen pada impor energi dari Kanada, seperti minyak mentah dan bensin.

Gedung Putih mengatakan Trump terbuka untuk mempertimbangkan lebih banyak pengecualian tarif setelah berlaku pada Selasa (4/3/2025). Laporan Bloomberg menunjukkan, Trump berencana mengecualikan produk pertanian tertentu dari tarif yang dikenakan pada Kanada dan Meksiko.

"Sementara investor mencerna janji-janji Tiongkok yang mengatakan akan memberi lebih banyak stimulus untuk menyegarkan ekonominya yang melambat. Pasar juga menunggu lebih banyak isyarat tentang suku bunga AS, dengan data utama penggajian nonpertanian yang akan dirilis Jumat," ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati deflasi yang terjadi dua bulan berturut-turut, pada Januari dan Februari 2025. Dengan terjadinya deflasi dua bulan beruntun, BI diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan.

"Namun langkah menurunkan BI Rate masih dihantui kondisi kurs rupiah yang masih rentan pelemahan. Nilai tukar rupiah bahkan sempat turun paling dalam sejak pandemi Covid-19," kata Ibrahim menutup analisisnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....