Rupiah Turun Jadi Rp16.380 per Dolar AS
- 26 Feb 2025 16:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (26/2/2025). Menurut Bloomberg, rupiah turun tipis 0,06 persen atau sembilan poin menjadi Rp16.380 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sentimen pasar masih didominasi kekhawatiran terhadap tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump. Ini ditambah kekhawatiran terhadap perekonomian AS yang melambat karena tingkat keyakinan konsumennya yang anjlok.
"Trump menambah sentimen negatif dengan mengancam akan mengenakan tarif pada tembaga," ujarnya. Sebelumnya dia mengisyaratkan pengenaan tarif 25 persen untuk impor dari Kanada dan Meksiko akan dikenakan pada awal Maret.
Baca juga: Keyakinan Konsumen AS Turun, Rupiah Berpeluang Menguat
Trump mengatakan pungutan atas impor dari kedua negara tersebut akan "tepat waktu dan sesuai jadwal". Sebelumnya dia menangguhkan kebijakan terhadap kedua negara itu selama sebulan.
Nilai impor dari Kanada dan Meksiko ke AS saat ini tercatat sekitar USD918 miliar. "Sementara tingkat kepercayaan konsumen AS memburuk seiring ekspektasi inflasi 12 bulan yang diperkirakan melonjak," ucap Ibrahim.
Dari dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan layanan bisnis emas atau bullion service yang pertama di Indonesia. Ini merupakan kerja sama antara PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk.
Bullion adalah lembaga jasa keuangan yang melakukan usaha berkaitan dengan emas. Baik dalam bentuk simpanan, pembiayaan, perdagangan, penitipan, maupun kegiatan lainnya terkait emas.
Indonesia pun dikenal sebagai salah satu negara penghasil emas terbesar dunia. "Diluncurkannya Bullion Bank bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan cadangan emas nasional agar tidak terus mengalir ke luar negeri," ujar Ibrahim.
Menurut dia, usaha bullion juga dapat memaksimalkan nilai tambah sumber daya emas di Indonesia. Baik berupa hasil tambang maupun stok emas yang dimiliki masyarakat.
"Usaha Bullion berpotensi meningkatkan konsumsi emas ritel yang akan memacu peningkatan industri dan keseluruhan bisnis dalam ekosistemnya," ujarnya. Nilai tambah yang dihasilkannya pun bisa mencapai Rp30-50 triliun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....