Sesi Pertama Perdagangan, IHSG Turun ke Zona Merah

  • 19 Feb 2025 11:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat hari ini, namun menurun ke zona merah di sesi pertama perdagangan hari ini. Berdasarkan data RTI Business, IHSG berada di level 6.846 turun 0,43 persen dibandingkan level hari Selasa kemarin.

Pada penutupan perdagangan Selasa, IHSG menguat 0,62 persen disertai net buy (beli bersih) investor asing sebesar Rp384,79 miliar. Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBRI, TLKM, ASII, BMRI dan BBNI.

"IHSG hari ini berpotensi menguat terbatas dengan uji level resist 6.930. Perkiraan pergerakan IHSG di level support 6.848-6.830 dan di level resist rentang 6.933-6.957," kata Retail Research BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, Rabu (19/2/2025).

IHSG bergerak melemah di tengah penantian pelaku pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini. BI akan mengumumkan suku bunga kebijakannya, setelah pada Januari kemarin secara tak terduga BI menurunkan suku bunga 25 basis poin.

Pada Selasa malam, indeks harga saham di Wall Street di Amerika Serikat melesat. Indeks S&P 500 bahkan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high).

"Penguatan tersebut terjadi setelah saham-saham meningkat menjelang penutupan perdagangan. Para investor yang tampaknya mengabaikan tantangan dari sektor perdagangan global dan inflasi," ucap Lutfi.

Menurutnya, pelaku pasar masih mencermati pernyataan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang mengisyaratkan dukungannya kepada sektor swasta. Jinping mendesak para pebisnis untuk menunjukkan bakat mereka.

Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,66 persen, menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Australia. Diperkirakan, Bank Sentral itu akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,10 persen.

Indeks Jepang, Nikkei 225 naik 0,25 persen, indeks Korea Selatan,Kospi menguat 0,63 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong melesat 1,59 persen, sedangkan indeks CSI 300 Tiongkok melemah 0,88 persen .

'Singapura akan menyelenggarakan anggaran pertamanya di bawah Perdana Menteri Lawrence Wong nanti. Para analis memperkirakan akan ada lebih banyak dukungan bagi rumah tangga dan bisnis di tengah persiapan pemilu pada bulan November," ujar Lutfi.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....