Trump Naikkan Tarif Impor, IHSG Ikut Tertekan
- 03 Feb 2025 11:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau turun tajam dalam pembukaan perdagangan hari ini. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG dibuka di level 7.087, turun hampir 1,33 persen atau 92 poin.
Pada akhir pekan kemarin, IHSG ditutup naik tipis 0,5 persen disertai dengan net buy (beli bersih) asing sebesar Rp268 miliar. Saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBRI, BBCA, BBNI, GOTO dan BRIS.
"IHSG hari ini berpotensi tes support di 7.070 karena penetapan tarif Trump. Akan tetapi, jika IHSG kuat bertahan di area tersebut, potensi lanjut naik hingga 7.320 middle term," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Senin (3/2/2025).
Fanny memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini di level support di rentang 7.050-7.070. Sedangkan level resist di rentang 7.150-7.200.
Baca Juga: Trump Naikkan Tarif Impor, Rupiah Anjlok ke 16.400-an
Baca Juga: Sentimen Pasar Postif, IHSG Ditutup di Zona Hijau
Bursa saham Amerika Serikat menurun begitu Presiden Trump mengumumkan kenaikan tarif mulai diberlakukan bagi mitra dagangnya. Yaitu Tiongkok, Kanada dan Meksiko.
Indeks S&P 500 turun 0,50 persen, Dow Jones Industrial Average melemah 0,75 persen, Nasdaq Composite melemah 0,28 persen. "Saham-saham yang memiliki eksposur ke pasar Kanada, Meksiko, dan China bereaksi negatif terhadap kabar ini," ucap Fanny.
Sementara bursa saham Asia bergerak beragam setelah rilis data ekonomi di Jepang dan Australia. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,15 persen, dan Topix menguat 0,24 persen.
Pasar Korea Selatan, indeks Kospi turun 0,77 persen, tapi di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik 0,45 persen. Sementara pasar di Hong Kong dan China tetap tutup karena libur Tahun Baru Imlek.
Bank of Japan merevisi perkiraan inflasi lebih tinggi pada pertemuan bulan Januari. Deputi Gubernur Ryozo Himino mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika perkembangan ekonomi dan harga sesuai ekspektasi.
"Para pembuat kebijakan memantau dengan cermat data inflasi Tokyo, indikator utama tren harga nasional. Pemantauan dilakukan untuk mengukur kemajuan Jepang dalam mencapai target inflasi sebesar 2 persen," ujar Fanny.
Sementara, Indeks harga produsen (PPI) Australia naik 3,7 persen. Kenaikan itu terhitung sepanjang tahun hingga Desember 2024.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....