Rupiah Ditutup Naik Tipis, Analis: Pelaku Pasar Hati-Hati

  • 24 Des 2024 16:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berhasil menguat meski tipis terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,04 persen (6 poin) ke posisi Rp16.190 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar masih didominasi oleh faktor eksternal. Terutama sikap bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang hawkish (ketat) terkait suku bunga kebijakannya.

“Sehingga investor berhati-hati dengan kenaikan dolar AS, menyusul kecenderungan hawkish The Fed. Pelaku pasar menahan diri tidak memasang taruhan besar jelang liburan natal karena waktu perdagangan dipersingkat,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (24/12/2024).

Baca Juga:

Penguatan Dolar Kembali Menekan Rupiah Hari Ini

November 2024, Jumlah Uang Beredar Capai Rp9.175,8 Triliun

Ibrahim melihat indikasi tingkat suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama (higher for longer). Di sisi lain, pergerakan harga belum pulih sepenuhnya akibat implikasi prospek suku bunga The Fed.

“Pasar sekarang hanya berharap dua penurunan masing-masing sebesar 25 basis poin di tahun 2025. Seperti perkiraan sebelum The Fed menurunkan suku bunganya pada pertemuan pekan kemarin,” ucap Ibrahim.

Pelaku pasar juga menaruh harapan pada kebijakan stimulus pemerintah Beijing, Tiongkok. Termasuk data Purchasing Manager’s Index (PMI) yang akan memberikan petunjuk mengenai perkembangan ekonomi Tiongkok.

Di dalam negeri, Ibrahim menyoroti klaim pemerintah mengenai kondisi terkini perekonomian domestik. Pemerintah menyebut kondisi fundamental Indonesia masih kuat, meski rupiah sudah menembus Rp16.000 per dolar AS.

“Pemerintah menyebut, pelemahan rupiah masih lebih baik dibandingkan mata uang negara lainnya. Seperti Won Korea Selatan, Yen Jepang dan Real Brasil,” ucap Ibrahim.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Di antaranya tensi geopolitik, perlambatan ekonomi Tiongkok dan kemenangan Donald Trump dalam pilpres AS.

Pelemahan rupiah, tambah Ibrahim, ada sisi positif dan sisi negatif seperti dua sisi mata uang. Sisi positifnya, dapat meningkatkan daya saing ekspor terutama ekspor sumber daya alam yang menjadi andalan Indonesia.

“Indonesia juga diungtungkan dari pelemahan rupiah. Neraca perdagangan jadi positif terus, bahkan melebar pada November 2024,” kata Ibrahim.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....