Rupiah Naik Tipis Meski Masih di Level Rp16.000
- 16 Des 2024 16:58 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (16/12/2024). Menurut Bloomberg, rupiah naik 0,04 persen atau 7 poin ke posisi Rp16.001 per dolar AS.
Sejumlah faktor eksternal masih mempengaruhi pergerakan rupiah. Demikian pula faktor domestik berupa rilis neraca perdagangan dan pengumuman paket kebijakan ekonomi pemerintah untuk 2025.
Secara eksternal, pelaku pasar masih mewaspadai penguatan dolar AS sebelum rapat The Fed pekan ini. "Bank sentral AS diperkirakan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin," kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.
Namun, prospek suku bunga The Fed akan diawasi dengan ketat karena meningkatnya inflasi dan kuatnya pasar tenaga kerja. Bank sentral AS kemungkinan lebih berhati-hati sehingga membuat suku bunga tetap tinggi dalam jangka panjang.
Baca juga: Waspada, Rupiah Diperkirakan Masih Berisiko Melemah
Di Asia, Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunganya pada pekan ini. "Para pejabatnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengevaluasi risiko global dan prospek pertumbuhan upah pada 2024," ucap Ibrahim.
Sementara di Korea, Kementerian Keuangan negara itu berjanji menerapkan langkah-langkah stabilisasi pasar secara cepat. Hal itu demi menjaga stabilitas perekonomian usai pemakzulan Presiden Yoon Suk-yeol.
Di Tiongkok, sektor industri tumbuh seperti diharapkan karena stimulus terbaru Beijing yang mendukung aktivitas bisnis. Namun, penjualan ritel tidak mencapai perkiraan, yang mencerminkan pelemahan dalam belanja konsumen meski ada dukungan stimulus.
Dari dalam negeri, surplus neraca perdagangan Indonesia sudah berlangsung selama 55 bulan hingga November 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan pada November 2024 mencapai USD4,42 miliar dolar.
Ini berarti kenaikan dibandingkan surplus Oktober 2024 yang sebesar USD2,48 miliar. "Surplus dipicu nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor pada November," ujar Ibrahim.
Ekspor Indonesia tercatat sebesar USD24,01 miliar sementara impornya mencapai USD19,59 miliar. Impor Indonesia secara bulanan turun 10,71 persen pada November 2024.
Pemerintah telah secara resmi mengumumkan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen mulai 1 Januari 2025. Namun, sejumlah barang dan jasa tetap dibebaskan dari PPN, sementara beberapa barang lainnya mendapatkan fasilitas diskon tarif.
Bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan juga tetap diberikan kepada masyarakat berpenghasilan sangat rendah. Kemudian untuk tarif listrik dengan daya di bawah 2.200 VA akan mendapat diskon 50 persen selama dua bulan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....