Rupiah Turun Enam Poin terhadap Dolar AS

  • 25 Nov 2024 18:04 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (25/11/2024). Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,04 persen atau 6 poin ke posisi Rp15.881 per dolar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pencalonan Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan pemerintahan Donald Trump membebani dolar AS. "Namun, kemunduran dolar bisa bersifat sementara mengingat Bessent secara terbuka mendukung dolar yang kuat dan tarif perdagangan," ujarnya.

Baca juga: Pergerakan Bursa Saham Global Positif, Rupiah Berpeluang Menguat

Presiden Terpilih AS, Donald Trump, memastikan menunjuk Bessent sebagai Menteri Keuangan (Treasury Secretary). Dia adalah advokat kebijakan ekonomi Trump serta praktisi yang sudah malang melintang di Wall Street dan perusahaan-perusahaan investasi.

Menurut Ibrahim, dolar AS diperkirakan masih akan dipengaruhi kebijakan Trump. Sementara itu, pelaku pasar mengurangi spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi 25 basis poin pada Desember 2024.

"CME FedWatch Tool menyebutkan peluang penurunan suku bunga menjadi 52 persen dibandingkan 72 persen sebulan sebelumnya," ucapnya. Sementara itu, indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebagai ukuran inflasi yang disukai The Fed akan dirilis Jumat (29/11/2024).

Data inflasi diharapkan dapat memberikan lebih banyak petunjuk tentang suku bunga. Dari Timur Tengah, Israel mempertimbangkan gencatan senjata dengan Hizbullah, sehingga membawa harapan meredanya konflik.

Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati neraca pembayaran Indonesia kuartal III 2024 yang surplus USD5,9 miliar (Rp93,22 triliun). Padahal pada kuartal sebelumnya mengalami defisit USD600 juta (Rp9,48 triliun).

"Surplus pada triwulan III ditopang perbaikan sejumlah indikator seperti penurunan defisit transaksi berjalan," ucapnya. Yaitu dari USD3,2 miliar (Rp50,56 triliun) pada triwulan II 2024 menjadi USD2,2 miliar (Rp34,76 triliun) pada triwulan berikutnya.

Surplus neraca perdagangan juga dipicu peningkatan surplus transaksi modal dan finansial menjadi USD6,6 miliar (Rp104,28 triliun). "Ini membuat stabilitas ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga di tengah risiko global," kata Ibrahim.

Pada gilirannya, surplus neraca perdagangan Indonesia berdampak pada semakin menguatnya cadangan devisa negara. "Saat ini angkanya mencapai USD149,9 miliar (Rp2.368,42 triliun) pada September 2024," kata Ibrahim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....