Tekanan Dolar Berkurang, Rupiah Naik 66 Poin

  • 30 Okt 2024 17:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berhasil keluar dari tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (30/10/2024). Menurut Bloomberg, rupiah menguat 0,42 persen atau 66 poin ke posisi Rp15.704 per dolar AS.

Sentimen pasar tampaknya masih dipengaruhi pemilihan presiden (pilpres) di AS. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sebagian besar pelaku pasar merasa gelisah menjelang kontestasi tersebut.

"Meski Donald Trump unggul, para analis masih melihat persaingan terlalu ketat untuk diprediksi," ujarnya. Menurut dia, perbedaan Trump dan Harris terkait program ekonomi AS memicu ketidakpastian kebijakan di masa mendatang.

Baca juga : Data Lowongan Kerja AS Turun, Rupiah Berpeluang Menguat

Faktor lain yang mempengaruhi sentimen pasar keuangan adalah ketidakpastian politik di Jepang. Kemudian perkembangan konflik di Timur Tengah, di mana Israel masih melancarkan serangan di Gaza dan Lebanon.

Di Jepang, ketidakpastian politik dapat mencegah bank sentral negara itu menaikkan suku bunganya lebih lanjut. Di samping ada skenario yang memicu spekulasi pengeluaran fiskal yang lebih besar oleh Pemerintah Jepang.

"Pasar juga mewaspadai serangkaian indikator ekonomi AS dan suku bunga pada beberapa hari mendatang," ujar Ibrahum. Di antaranya produk domestik bruto kuartal ketiga akan dirilis pada Kamis (31/10/2024).

Kemudian indeks harga belanja personal dan data penggajian nonpertanian yang akan dirilis pada Jumat (1/11/2024). Semuanya akan menjadi pertimbangan The Fed, bank sentral AS, dalam menentukan kebijakan suku bunganya.

Dari dalam negeri, Ibrahim mencermati prediksi ekonom mengenai utang pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto. "Mereka menyoroti World Economic Outlook (WEO) yang dirilis International Monetary Fund (IMF) edisi Oktober," ucapnya.

IMF memperkirakan utang pemerintah berpotensi semakin bertambah besar menjadi Rp12.893,96 triliun pada lima tahun mendatang. Utang yang meningkat itu berasal dari peningkatan belanja sementara pendapatan cenderung stagnan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....