Pasar Buru Dolar AS, Rupiah Turun Lagi

  • 28 Okt 2024 18:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin (28/10/2024). Menurut Bloomberg, rupiah turun 0,50 persen atau 77 poin ke level Rp15.724 rupiah per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelaku pasar sedang memburu dolar AS. Akibatnya, mata uang itu menguat dan menyebabkan pelemahan rupiah.

"Pelaku pasar sebagian besar condong ke dolar AS untuk mengantisipasi hasil pilpres di sana," ujarnya. Ini ditambah dengan ketidakpastian politik di Jepang menyusul hasil pemilu di Negeri Matahari Terbit itu.

Baca juga: Rupiah Berisiko Melemah Karena Gejolak Timur Tengah

Sedangkan kekhawatiran pasar terhadap gejolak di Timur Tengah, lanjut Ibrahim, masih tetap ada meski mulai mereda. Hal itu dipicu saat Israel menembakkan misilnya ke Iran pada pekan kemarin.

"Fokus pasar pada minggu ini akan tertuju pada serangkaian rilis data-data ekonomi," ucapnya. Misalnya produk domestik bruto AS dan negara-negara Eropa yang disampaikan pekan depan.

Kemudian indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi yang menjadi faktor pengukur inflasi bank sentral AS. Sementara dari dalam negeri, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi utang jatuh tempo yang harus dibayar pada 2025.

"Surat Berharga Negara (SBN) yang dibeli Bank Indonesia (BI) akan jatuh tempo 2025 sebesar Rp100 triliun," ujar Ibrahim. Kemudian, lanjut dia, pembayaran utang akan terus belanjut saat pemerintah Presiden Prabowo selesai pada 2029.

Utang-utang jatuh tempo tersebut mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait burden sharing. Pada masa pandemi, pemerintah dan BI sepakat untuk berbagai beban dalam pembiayaan penanganan Covid-19.

"Itu hanya sebagian dari total utang jatuh tempo plus bunga yang harus dibayar pemerintah tahun depan," ucap Ibrahim. Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah yang jatuh tempo pada 2025 mencapai Rp800,33 triliun.

Dari jumlah tersebut, utang dari SBN jatuh tempo mencapai Rp705,5 triliun. Sedangkan sisanya berupa pinjaman jatuh tempo sebesar Rp94,83 triliun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....