Rupiah Makin Tertekan, Melemah Jadi Rp15.485/Dolar AS

  • 04 Okt 2024 17:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih tertekan di akhir pekan ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah ditutup melemah 0,37 persen (56,5 poin) ke posisi Rp15.485 per dolar AS.

Pelaku pasar nampanya masih dalam posisi menunggu rilis data ekonomi Amerika Serikat. Selain itu, konflik Timur Tengah masih memanas karena AS sudah ambil ancang-ancang untuk ikut campur.

“Laporan penggajian pekerja non-pertanian di AS menjadi isu utama , karena menjadi petunjuk kebijakan suku bunga lebih lanjut. Ketegangan yang makin meningkat di Timur Tengah, juga membuat pasar gelisah,” kata Ibrahim, Jumat (4/10/2024).

Baca Juga : Data Ekonomi AS Dinilai Pengaruhi Rupiah Berpotensi Melemah

Kondisi itu, lanjutnya, membuat pasar mengurangi taruhannya tentang pemangkasan suku bunga The Fed. Ekspektasi The Fed akan menurunkan suku bunga 50 basis bulan depan, peluangnya tinggal 35 persen.

“Dari sisi konflik Timur Tengah, Presiden Joe Biden mengisyaratkan campur tangan dan dukungan AS terhadap Israel. Biden sedang mendiskusikan dukungannya pada Israel untuk menyerang fasilitas minyak Iran,” ucap Ibrahim.

Sementara di Jepang, Perdana Menteri Shigeru Ishiba menyatakan kondisi Jepang belum siap untuk penurunan suku bunga lebih lanjut. Pernyataan itu berlawanan dengan perkataannya sebelum terpilih menjadi PM Jepang yang baru.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati masalah deflasi selama lima bulan berturut-turut. Kondisi itu menurutnya, mencerminkan daya beli masyarakat kelas menengah sudah merosot.

“Pemutusan hubungan kerja di sektor industri yang makin marak, membuat orang kehilangan penghasilannya. Sehingga daya beli akan semakin anjlok,” ucapnya.

Menurut Ibrahim, pembukaan lapangan kerja baru di industri pada karya nyaris tidak ada dalam lima tahun terakhir. Pemerintah lebih mendorong investasi di sektor padat modal daripada padat karya.

“Padahal industri padat karya merupakan andalan untuk melahirkan warga kelas menengah baru. PHK massal dan tidak tersedianya lapangan kerja menimbulkan konsekuensi daya beli masyarakat belum akan membaik,” ujar Ibrahim menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....