Apakah Kamu Terkena Hoarding Disorder? Kenali Gejalanya!

  • 09 Agt 2024 15:30 WIB
  •  Banten

BRN, Serang: Psikolog klinis asal Kota Serang, Infanti Wisnu Wardani, mengungkapkan gejala-gejala yang sering dialami oleh penderita hording disorder. Salah satu gejala utamanya adalah kecenderungan untuk membeli barang yang tidak diperlukan, meskipun sudah tidak ada ruang untuk menaruhnya. Penderita juga merasa sulit untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang tersebut, terlepas dari nilai sebenarnya, karena mereka memiliki perasaan kedekatan emosional yang kuat terhadap barang-barang itu.

Infanti menjelaskan penderita hording disorder cenderung merasa perlu menyimpan barang-barang tertentu dan merasa kesal jika harus membuangnya. Hal ini menyebabkan ruangan di rumah menjadi berantakan dan tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. "Sering kali, penderita juga memiliki sifat ragu-ragu, perfeksionis, penuh dengan penyangkalan, dan masalah dengan perencanaan serta pengorganisasian," ucap Infanti.

Gangguan ini juga dapat menimbulkan konflik dengan orang lain yang mencoba mengurangi atau menghilangkan tumpukan barang. "Misalnya, jika ada anggota keluarga yang membuang barang-barang yang ditimbun, penderita bisa menjadi emosional atau uring-uringan," ujarnya.

Infanti menambahkan bahwa sulitnya mengatur barang-barang yang sudah menumpuk sering kali membuat penderita kehilangan barang-barang yang sebenarnya penting. Bahkan, kebiasaan menunda-nunda untuk membersihkan tumpukan barang bisa menjadi tanda awal munculnya gejala Hording Disorder. "Jika kita mulai malas untuk membuang sampah kecil seperti bungkus makanan dan berpikir 'nanti saja', itu bisa menjadi sinyal awal dari gangguan ini," katanya.

Gejala lain yang sering muncul adalah kecemasan yang tidak wajar saat harus membuang barang, serta kesulitan ekstrem dalam mengambil keputusan terkait barang yang harus disimpan atau dibuang. "Padahal, jika kita sudah tidak menyentuh suatu barang dalam kurun waktu tertentu, seharusnya mudah untuk memutuskan bahwa barang tersebut sudah tidak kita butuhkan lagi," kata Infanti.

Meskipun demikian, Infanti menegaskan bahwa tidak semua orang yang menimbun barang mengalami hording disorder. Ia menjelaskan perbedaan antara menimbun barang dengan tujuan tertentu, seperti mengumpulkan kertas untuk dijual, dengan perilaku menimbun yang disertai kecemasan dan rasa kepemilikan yang berlebihan tanpa tujuan yang jelas. "Jika seseorang menimbun barang dengan tujuan tertentu, seperti menjualnya di kemudian hari, maka itu bukanlah hording disorder. Masalahnya muncul ketika tidak ada tujuan yang jelas dan ada rasa cemas yang melekat ketika barang-barang tersebut hilang," ujarnya.

Infanti berharap agar masyarakat lebih sadar akan gejala-gejala Hording Disorder dan memahami perbedaannya dengan perilaku menimbun barang secara umum. Dengan begitu, penderita dapat segera mendapatkan bantuan yang diperlukan untuk mengatasi gangguan ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....