Mengenali Mata Minus atau Rabun Jauh dan Pengobatannya
- 05 Jun 2024 09:05 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Mata minus atau rabun jauh memiliki istilah medis miopia. Kondisi ini menyebabkan seseorang kesulitan melihat benda dari jarak jauh.
Pada mata normal, lensa mata dan kornea akan membiaskan cahaya yang masuk sehingga bayangan objek difokuskan tepat di retina. Sedangkan pada mata minus, cahaya yang masuk tidak fokus di retina, tetapi jauh di depannya.
Hal ini dapat disebabkan oleh kornea yang terlalu cembung atau panjang bola mata yang terlalu besar. Sehingga jika memiliki mata minus, pada saat melihat dari jarak jauh objek akan terlihat tidak fokus.
Besarnya keparahan mata minus ditandai dengan ukuran dioptri (D). Berdasarkan tingkat keparahannya, mata minus terbagi tiga, yaitu miopia rendah (minus 0.5D hingga minus 3D), sedang (minus 3D hingga 6D), dan berat (di atas 6D).
Menurut dr. Widyandana MHPE., Ph.D., (K) pada siaran dialog di Pro2 Jogja baru -baru ini penanganan yang bisa dilakukan untuk mangatasi mata minus atau rabun jauh yaitu dengan metode Lasik Photorefractive keratectomy (PRK) .
“Lasik Photorefractive keratectomy (PRK) merupakan jenis operasi refraksi pertama untuk mengobati masalah penglihatan akibat gangguan refraksi. Metode PRK pertama kali dikembangkan pada tahun 1948. PRK digunakan untuk mengobati miopia (rabun dekat), hiperopia (rabun jauh), dan astigmatisme,” ujarnya.
Walaupun lasik merupakan operasi yang terbilang praktis, tetapi dalam beberapa kasus, operasi ini dapat menimbulkan efek samping. Seperti adanya lingkaran cahaya, penglihatan ganda, masalah penglihatan pada malam hari, mengalami mata kering selama beberapa bulan pasca operasi.
Bisa pula terjadi kelebihan koreksi, kekurangan koreksi, induksi silindris, dan sensitivitas cahaya. Selain itu biaya yang terbilang tinggi dan sebagian besar asuransi tidak mencakup prosedur ini. (abi/par)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....