Hari Cerebral Palsy Sedunia, Lingkungan yang Inklusif Penting Bagi Penyandang

  • 06 Okt 2026 09:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Cerebral Palsy Sedunia diperingati setiap 6 Oktober sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi neurologis yang memengaruhi gerakan dan koordinasi tubuh.
  • Lingkungan yang inklusif dan mendukung memungkinkan penyandang CP untuk menjalani pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial dengan setara dan bermartabat.
  • Cerebral palsy terjadi akibat gangguan pada perkembangan atau kerusakan otak yang sedang berkembang, memengaruhi gerakan, postur, keseimbangan, dan koordinasi tubuh secara keseluruhan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Cerebral Palsy (CP) Sedunia yang diperingati setiap 6 Oktober menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap penyandang CP. Lingkungan yang inklusif membantu penyandang menjalani pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial secara setara.

Cerebral palsy merupakan kondisi yang memengaruhi gerakan, postur, keseimbangan, dan koordinasi tubuh. Kondisi tersebut terjadi akibat gangguan pada perkembangan atau kerusakan otak yang sedang berkembang.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Selasa, 6 Oktober 2026, CP dapat menyebabkan kelemahan otot dan kekakuan atau spastisitas. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi komunikasi, mobilisasi, serta aktivitas sehari-hari penyandang.

Dokter Spesialis Anak dari RS Ngoerah, dr. Ni Luh Sukma Pratiwi Murti, mengatakan tanda-tanda CP terlihat dari keterlambatan kemampuan motorik sesuai usia. Misalnya, bayi yang memasuki usia tiga bulan tetapi belum mampu menopang kepala, atau pada usia enam bulan belum mampu duduk.

“Pada saat tiga bulan, dia mampu tidak untuk mengangkat leher. Kemudian mampu tidak dia guling-guling, mampu tidak dia untuk duduk pada saat enam bulan,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, lingkungan yang inklusif perlu memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang CP. Dukungan tersebut mencakup akses pendidikan, fasilitas publik, layanan kesehatan, pekerjaan, dan kegiatan sosial.

Dilansir dari laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lingkungan dapat memengaruhi pengalaman seseorang dengan disabilitas. Lingkungan yang tidak aksesibel dapat menghambat partisipasi penyandang dalam kehidupan masyarakat.

Sekolah juga perlu menyediakan lingkungan pembelajaran yang dapat diakses semua peserta didik. Penyesuaian fasilitas dan metode pembelajaran dapat membantu penyandang CP mengikuti kegiatan pendidikan.

Dukungan juga diperlukan dalam bidang pekerjaan agar penyandang memperoleh kesempatan yang setara. WHO menyebut stigma, diskriminasi, dan hambatan akses dapat membatasi partisipasi penyandang disabilitas.

Rehabilitasi juga berperan membantu penyandang meningkatkan kemampuan fungsional dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Selain itu, juga dapat mendukung kemandirian serta partisipasi dalam pendidikan dan pekerjaan.

Peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia mengajak masyarakat melihat penyandang berdasarkan kemampuan, bukan keterbatasannya. Lingkungan inklusif dapat membuka kesempatan bagi penyandang untuk berkembang dan berpartisipasi secara setara. Davina Keisha Salsabila)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....